Perbatasan Berau Butuh Aksi Nyata, DPRD Desak Evaluasi Total Layanan Kesehatan
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Sorotan terhadap pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan Kabupaten Berau kembali mencuat.
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Sorotan terhadap pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan Kabupaten Berau kembali mencuat.
Anggota DPRD Berau, Peri Kombong, menilai persoalan minimnya ambulans dan kekurangan tenaga kesehatan bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan belum meratanya perhatian pembangunan.
Menurutnya, kondisi di Kampung Maluang, Kecamatan Teluk Bayur, menjadi contoh nyata ketimpangan layanan dasar. Hingga kini, kampung tersebut belum memiliki ambulans siaga untuk menangani kondisi darurat warga.
“Ketika terjadi kondisi gawat darurat, masyarakat kebingungan karena tidak ada kendaraan yang siap sedia. Kehadiran ambulans sangat mendesak,” tegasnya.
Dirinya menilai, persoalan ini tak bisa dilepaskan dari tantangan geografis wilayah perbatasan yang memiliki akses terbatas menuju pusat layanan kesehatan di Tanjung Redeb.
Jarak tempuh yang jauh dan kondisi jalan yang tidak selalu memadai membuat waktu penanganan medis semakin panjang. Dalam situasi pasien kritis, keterlambatan beberapa menit saja bisa berdampak fatal.
Bagi Peri, ambulans bukan sekadar kendaraan operasional, melainkan bagian dari sistem penyelamatan nyawa.
Karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kesehatan menempatkan pengadaan ambulans perbatasan sebagai prioritas, bukan program pelengkap.
Selain armada darurat, ia juga menyoroti krisis tenaga kesehatan di Pustu wilayah pinggiran. Kekurangan perawat dan bidan menyebabkan pelayanan dasar sering tidak berjalan optimal.
Bahkan, dalam beberapa kasus, satu tenaga medis harus membagi waktu ke beberapa kampung sekaligus.
“Tidak masuk akal jika satu bidan harus mencakup banyak wilayah. Pelayanan tidak akan maksimal jika SDM dipaksa bekerja di luar batas kemampuan,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada masyarakat. Fasilitas kesehatan kerap kosong saat warga membutuhkan pertolongan awal. Situasi ini dinilai memperlebar kesenjangan antara wilayah kota dan perbatasan.
Politikus Partai Gerindra itu pun mendorong, evaluasi menyeluruh terhadap distribusi tenaga kesehatan dan alokasi anggaran. Sehingga, dirinya menekankan agar efisiensi APBD tidak justru mengorbankan layanan dasar.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur fisik harus sejalan dengan penguatan layanan publik yang menyentuh kebutuhan mendesak masyarakat.
“Saya harapnya, tidak ada lagi wilayah perbatasan yang tidak lengkap pembangunannya. Bukan sekadar wacana,” tandasnya. (adv)
Editor: Erwin







Copyright © 2007 - 2026 Korankaltim.com | All Rights Reserved.
5 kali dibaca
111 km Tenggara SELAYAR-SULSEL
01 Okt 2026, 21:20:00 WIB • Kedalaman 10 km
Tidak berpotensi tsunami
Sumber: BMKG