Konservasi Penyu Dinilai Jadi Ujian Keseriusan Pengelolaan Wisata Derawan
1 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Upaya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian lingkungan kembali menjadi sorotan di Pulau Derawan.
Bukan hanya karena kawasan ini menjadi salah satu destinasi unggulan Kabupaten Berau, tetapi juga karena keberlangsungan habitat penyu yang menjadi simbol ekosistem laut tropical Indonesia.
Isu tersebut mencuat seiring meningkatnya aktivitas wisata, yang tanpa pengelolaan ketat berpotensi menekan populasi satwa dilindungi itu.
Di balik seruan pelestarian yang disampaikan Wakil Ketua Komisi III DPRD Berau, Ahmad Rifai, tantangan sesungguhnya justru berada pada pola pengelolaan wisata yang masih berorientasi kuantitas.
Pendapatan pariwisata memang penting, namun tanpa kebijakan konservasi yang matang, sektor ekonomi ini bisa merusak sumber daya alam yang menjadi daya tarik utamanya.
“Penyu adalah ikon Derawan, daya tarik wisatawan, sekaligus bagian penting dari rantai ekosistem laut. Kalau kita tidak jaga dari sekarang, kita akan kehilangan aset yang sangat berharga,” ujarnya.
Penerapan zonasi wisata, ketegasan regulasi, dan penegakan hukum bukan lagi sekadar imbauan, tetapi kebutuhan mendesak untuk memastikan habitat penyu tidak terganggu.
Pengawasan terhadap aktivitas wisata di pesisir perlu ditingkatkan, mulai dari pengelolaan sampah hingga pembatasan akses pada area peneluran penyu.
Di saat yang sama, edukasi bagi wisatawan dan generasi muda menjadi elemen penting untuk membangun kesadaran kolektif.
“Edukasi adalah kunci. Masyarakat harus tahu bahwa menjaga penyu bukan hanya soal lingkungan, tapi juga masa depan ekonomi daerah melalui pariwisata yang berkelanjutan,” tandasnya. (Adv)
Editor: Erwin










