Namun, Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menegaskan pentingnya langkah cepat Pemerintah Daerah untuk menjaga agar kekayaan lokal tidak dikuasai pihak luar.
Menurutnya, terasi Buyung-buyung selama ini dikenal memiliki kualitas terbaik, namun belum mendapat sentuhan inovasi dan perlindungan dari pemerintah daerah.
Dirinya menilai, perlu ada sistem pembinaan dan pengelolaan yang terstruktur agar hasil produksi masyarakat tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan menjadi produk bernilai tambah melalui kemasan dan pemasaran profesional.
“Kalau bahan mentah saja yang dijual, keuntungan besar justru dinikmati oleh pihak lain. Pemerintah harus turun tangan melalui Perusda untuk menampung, mengolah, dan memasarkan produk unggulan daerah,” tegasnya.
Bahkan, pihaknya juga mengusulkan agar Pemkab Berau segera merealisasikan pembangunan pabrik pengolahan dan kemasan terasi di Kampung Buyung-buyung, guna mendorong kemandirian ekonomi warga.
Dengan kapasitas produksi mencapai 30 ton setiap enam bulan, potensi ini dinilai mampu menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Untuk itu, pihaknya menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM dan dukungan peralatan memadai agar masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga pelaku utama ekonomi daerah.
“Seperti lada, nilai jualnya meningkat tajam setelah dikemas. Begitu juga dengan terasi, jika dikelola modern, bisa jadi produk unggulan ekspor,” tutupnya. (Adv)
Editor: Erwin