Menurutnya, program tersebut sejalan dengan upaya menata destinasi wisata unggulan agar lebih tertib, nyaman, dan ramah lingkungan.
Namun, Saga menekankan agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan ekosistem dan daya dukung lingkungan sekitar danau.
Bahkan, dirinya menyarankan agar setiap pembangunan dilengkapi kajian lingkungan dan pengawasan ketat, mengingat Pulau Kakaban adalah kawasan konservasi yang sensitif terhadap aktivitas manusia.
“Penting untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan wisata dan kelestarian alam. Jangan sampai pembangunan yang bertujuan baik justru berdampak pada populasi ubur-ubur yang menjadi ikon Kakaban,” ujarnya.
Selain itu, Saga juga mendorong Disbudpar agar melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas wisata.
Menurutnya, partisipasi warga lokal akan memperkuat rasa memiliki dan mendukung keberlanjutan pariwisata Kakaban.
Dengan alokasi anggaran Rp2,3 miliar di tahun 2025, Saga berharap pembangunan traking dan fasilitas pendukung bisa menjadi contoh pengembangan wisata berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
“Kita ingin wisata di Berau tumbuh tanpa mengorbankan alamnya. Kalau pengelolaan dilakukan dengan benar, Pulau Kakaban akan tetap menjadi kebanggaan dunia, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin