Menurutnya, kebijakan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat nilai-nilai budaya dan karakter masyarakat lokal di tengah pesatnya perkembangan wisata.
“Konsep pariwisata halal bukan berarti membatasi wisatawan, tetapi justru memperkenalkan jati diri Berau yang berakar pada kearifan lokal dan nilai-nilai keislaman,” ujar Sakirman.
Dirinya menilai, konsep ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang menginginkan suasana wisata yang nyaman, aman, dan beretika.
Namun, penerapan pariwisata halal menurutnya perlu dilakukan secara edukatif dan bertahap, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan pelaku wisata.
“Perlu sosialisasi yang baik, terutama bagi pengelola hotel, restoran, dan pelaku UMKM, agar penerapan konsep ini berjalan dengan harmonis,” tuturnya.
Sakirman juga berharap konsep pariwisata halal dapat mendorong pemberdayaan masyarakat lokal, mulai dari sektor kuliner hingga ekonomi kreatif, sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh warga sekitar kawasan wisata.
“Dengan pendekatan budaya dan ekonomi, pariwisata halal bisa menjadi identitas baru bagi Berau,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin