Seharusnya kata Madri, pemerintah daerah menghidupkan kembali potensi yang bisa diserap melalui Perusahaan Daerah (Perusda) supaya pemasaran serta pemanfaatannya dapat terakomodir.
“Jadi masyarakat yang menghasilkan material terasi itu bisa hidup, bukan malah dimanfaatkan oleh orang dari luar,” ucapnya.
Selain itu, Madri mengatakan perlu adanya pembinaan agar nantinya material terasi yang dihasilkan dari Kampung Buyung-Buyung bisa menjadi barang yang sudah dikemas dan mampu dijual dengan harga yang mahal.
Seperti diketahui, potensi yang bisa dihasilkan dari material terasi sekitar 30 ton per enam bulan yang langsung dikirim ke Nusa Tenggara Barat.
Seperti lada, bila mampu dijual dengan harga Rp90 ribu per 1 Kg dan dikemas dengan baik seperti kemasan botol atau per pack dan dijual dengan harga Rp25 ribu, jelas akan menjadi keuntungan dua kali lipat. “Dan itulah yang tidak pernah diinovasi dan diciptakan oleh suatu daerah,” tuturnya.
Madri menyebut, bila suatu daerah mampu menciptakan peluang yang berasal dari potensi hasil kampung tentu akan menjadikan potensi pertumbuhan ekonomi pada masyarakat sehingga menjadi lebih sejahtera dan mandiri.
Dirinya pun berharap agar nantinya pemerintah daerah segera merealisasikan dengan pengadaan pembangunan pabrik terasi di Kampung Buyung-buyung serta produksi kemasan terasi.
“Selama ini produksi terasi dari rumahan saja, jadi perlu adanya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) serta didukung dengan peralatan yang mumpuni karena kita punya lahan dan bahan bakunya,” tutupnya. (Adv)
Editor: Maruly Z