"Bukan sebaliknya, mengejar pelanggar untuk mendapatkan sanksi denda. Semua harus disiplin menjalankan protokol kesehatan," kata Budiono, Selasa (1/9/2020).
Dirinya lantas mengingat pada awal pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terjadi di kota Balikpapan. Pembatasan pun dilakukan. Masyarakat banyak berdiam diri di rumah.
"Namun ketika ada new normal (adaptasi kebiasaan baru), kita euforia. Akhirnya ya sedikit mengendurkan disiplin," ujarnya.
Tak ayal, kasus Covid-19 semakin tinggi. Terbentuk klaster baru. Ditemukan pula transmisi lokal. Bahkan sudah 1.700 lebih kasus yang terkonfirmasi. Sekitar 200 pasien dirawat di rumah sakit dan 300 orang menjalani isolasi mandiri.
"Ruang isolasi di rumah sakit juga terbatas. Maka Pemkot Balikpapan mengambil langkah, embarkasi haji jadi tempat isolasi," sebutnya.
Ia pun mendorong Pemkot Balikpapan untuk mengambil langkah apabila embarkasi haji telah penuh dengan para Orang Tanpa Gejala (OTG) yang menjalankan isolasi mandiri. Pasalnya, rumah sakit hanya diperuntukan bagi pasien dengan gejala berat.
"Saya juga kurang yakin OTG benar-benar isolasi mandiri di rumah. Bisa saja mereka bercampur dengan keluarga dan akhirnya menularkan Covid-19. Kan tidak ada yang mengawasi," tuturnya.
Politikus PDI Perjuangan ini kembali mengingatkan agar Perwali Protokol Kesehatan serius dilaksanakan. Tak sekadar mengawasi atau merazia orang tanpa masker di jalanan.
"Awasi juga perkantoran, mal, pasar, itu yang harus dikejar. Razia bukan cuma di jalan-jalan saja, tapi ke titik keramaian, tempat masyarakat biasa berkerumun," imbuhnya.
Terlebih regulasi itu bertujuan untuk menertibkan dan memberi edukasi tentang protokol kesehatan kepada masyarakat. "Bukan sanksi denda jadi tujuan," tukasnya.[adv]
Penulis: Hendra
Editor : Rusdi