"Itu usulan dari Direktur RSKD (Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo) dan sudah ada respon dari provinsi, dipersilakan segera digunakan. Apakah jadi rujukan karantina atau menjadi rumah sakit pembantu," kata Abdulloh, Rabu (12/8/2020).
Namun, masyarakat di Kecamatan Balikpapan Timur sempat menolak asrama haji dijadikan lokasi penanganan Covid-19. Mereka khawatir virus tersebut menyebar luas di sana.
Sementara, di sisi lain, mayoritas rumah sakit rujukan telah penuh untuk menampung pasien. Bahkan RSKD dikabarkan harus menambah sebanyak 80 ruang isolasi.
"Itu pun juga akan cepat penuh karena jumlah orang yang terkonfirmasi positif terus bertambah," sebutnya.
Dia berharap masyarakat diberi sosialisasi agar paham dengan keputusan pemerintah menjadikan asrama haji sebagai tempat isolasi atau pun rumah sakit pembantu.
"Ini bukan untuk kepentingan perorangan, tapi demi kesehatan masyarakat Balikpapan. Kalau menolak, kan sama saja tidak mendukung program pemerintah," ujarnya.
Selain itu, dijadikannya rumah sakit pembantu di asrama haji agar orang yang terpapar Covid-19 cepat tertangani manakala daya tampung rumah sakit rujukan telah penuh. "Mau ditampung di mana kalau rumah sakit sudah penuh semua," pungkasnya. (Adv)
Penulis: Hendra
Editor: M.Huldi