Kepala DKP Kutim, Suriansyah mengatakan, secara umum di Indonesia memiliki 70 persen lautan dari luasannya. Sehingga cukup 20 persen saja dapat dimanfaatkan sebagai wilayah konservasi blue karbon. "Ke depan besar potensi yang dapat dimanfaatkan melalui emisi karbon," jelas dia saat dikonfirmasi pada Rabu (29/11/2023).
Sebab potensi konservasi blue karbon di Kutim umumnya di Kaltim sangat besar, terutama untuk wilayah masuk daerah pesisir. Ia mengakui, sejumlah proses untuk menuju konservasi blue karbon di wilayah laut untuk mewujudkan itu, dibutuhkan dukungan data dan perhitungan yang tepat. "Termasuk berkaitan dengan mangrove, terumbu karang, dan lamun," jelasnya.
Meskipun perhitungan untuk blue karbon dari mangrove sudah dapat dilakukan. Namun, perhitungan untuk terumbu karang dan lamun masih dalam tahap pengembangan. Pihaknya tetap berkomitmen dalam mengembangkan dan menerapkan langkah-langkah konservasi yang efektif. "Dengan fokus pada konservasi blue karbon. Diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam penurunan karbon di laut," jelas dia.
Sebagai informasi, ekosistem blue karbon mengacu kepada tipe habitat vegetasi di perairan pantai yang memiliki mangrove, salt marshes atau daerah pasang surut perairan asin, dan padang lamun. Dimana, keseluruhan tipe ekosistem tersebut memainkan peran penting dalam penyerapan dan penyimpanan karbon jangka panjang. "Sangat membantu mengurangi dampak perubahan iklim," imbuhnya. (Adv)
Editor: Maruly Z