
Selasa, 29/09/2026
Selasa, 29/09/2026
Potret kota Tenggarong ( Foto: FB )

Selasa, 29/09/2026

Potret kota Tenggarong ( Foto: FB )
Penulis : Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Konsep Compact City yang disampaikan Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri dalam pidato peringatan HUT ke-244 Kota Tenggarong menjadi dorongan untuk membangun kota yang lebih terintegrasi, efisien dan nyaman bagi masyarakat.
Camat Tenggarong Syukur Eko Budi Santoso menyambut gagasan tersebut dengan harapan konsep Compact City dapat diwujudkan melalui kerja sama seluruh pihak.
Menurutnya, membangun Tenggarong sebagai kota yang semakin tertata tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat, komunitas hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Harapan kita tentu konsep Compact City ini bisa kita wujudkan bersama. Tentunya perlu kerja sama semua pihak,” kata Eko kepada korankaltim.com, Selasa (29/9/2026).
Ia menilai, Tenggarong memiliki modal yang kuat untuk dikembangkan menjadi kota yang terintegrasi. Selain memiliki sejarah panjang sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara, Tenggarong juga menjadi pusat aktivitas pemerintahan, pendidikan, perdagangan, budaya dan berbagai kegiatan masyarakat.
Karena itu, pengembangan kota harus dilakukan secara bersama-sama dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat dan karakter Tenggarong.
Menurutnya, konsep Compact City dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menjawab tantangan perkembangan kota. Kota yang semakin berkembang membutuhkan penataan yang mampu mendekatkan berbagai kebutuhan masyarakat dengan pusat aktivitas perkotaan.
“Yang paling penting adalah bagaimana semua pihak memiliki komitmen yang sama untuk menjadikan Tenggarong semakin nyaman, tertata dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Eko mengatakan, pemerintah kecamatan akan terus mendukung berbagai program pembangunan yang diarahkan untuk memperkuat kualitas kawasan perkotaan Tenggarong.
Namun, keberhasilan konsep tersebut tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat. Kesadaran menjaga lingkungan, ketertiban, kebersihan serta memanfaatkan ruang kota secara baik menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Ia juga melihat momentum HUT ke-244 Kota Tenggarong sebagai kesempatan untuk memperkuat semangat bersama dalam membangun kota.
Usia 244 tahun, menurutnya, menunjukkan bahwa Tenggarong memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Ke depan, perkembangan kota harus tetap berjalan tanpa meninggalkan identitas, adat dan budaya yang menjadi karakter kuat daerah.
Konsep Compact City juga diharapkan tidak sekadar berbicara mengenai pembangunan fisik. Lebih jauh, konsep tersebut harus mampu menciptakan ruang kota yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, pelayanan publik, lingkungan yang nyaman serta interaksi sosial.
“Jadi bukan hanya pemerintah yang bergerak. Semua harus mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas dan seluruh stakeholder harus berkolaborasi,” tegasnya.
Eko berharap gagasan yang disampaikan Bupati Aulia Rahman Basri tersebut dapat menjadi semangat baru bagi seluruh elemen masyarakat Tenggarong.
Terlebih, semangat membangun kota yang maju tetap harus berjalan seiring dengan upaya menjaga sejarah dan budaya Kutai. Camat Tenggarong menegaskan dengan kolaborasi lintas sektor, Tenggarong diharapkan tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga menjadi kota yang nyaman, produktif, berbudaya dan mampu memberikan kualitas hidup yang semakin baik bagi masyarakatnya.
“Tenggarong ini punya sejarah dan identitas yang kuat. Kita ingin kota ini berkembang, tetapi tetap memiliki karakter dan budaya yang menjadi jati dirinya,” demikian Eko. (adv)

Selasa, 29/09/2026
Potret kota Tenggarong ( Foto: FB )
TERPOPULER