
Selasa, 22/09/2026
Selasa, 22/09/2026
Bupati Kukar bersama Wagub Kaltim turut serta pada rangkaian acara sakral Bepelas (heri/korankaltim.com)

Selasa, 22/09/2026

Bupati Kukar bersama Wagub Kaltim turut serta pada rangkaian acara sakral Bepelas (heri/korankaltim.com)
Penulis : Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menyebut Bepelas bukan sekadar ritual dalam rangkaian Erau. Tradisi sakral Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai adat Kutai agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Alhamdulillah, Bepelas Erau Adat Kutai 2026 dilaksanakan pada malam rangkaian perayaan Erau di Museum Mulawarman. Rangkaian Bepelas ini menjadi simbol pembersihan diri dan penolak bala,” kata Aulia dikonfirmasi korankaltim.com, Selasa (22/9/2026).
Ia menegaskan, Bepelas merupakan salah satu acara inti dalam rangkaian Erau yang sarat dengan nilai sejarah, budaya dan spiritual. Tradisi tersebut diharapkan terus dijaga dan dilestarikan sebagai warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Menurutnya, keberlangsungan Bepelas menjadi salah satu bukti bahwa adat dan budaya Kutai masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. “Bepelas merupakan ritual sakral dan salah satu acara inti dalam rangkaian Erau, sebagai bagian dari tradisi adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” ucapnya.
Orang nomor satu Kukar ini menyebut pelaksanaan ritual tersebut tidak hanya dipandang sebagai sebuah pertunjukan budaya, tetapi memiliki nilai dan filosofi yang perlu dipahami masyarakat. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam setiap pelaksanaan Erau, tetapi juga memahami makna yang terkandung di balik setiap prosesi adat.
“Tradisi ini terus terjaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Kutai,” tegasnya. Aulia menilai keterlibatan pemerintah daerah, Kesultanan, kerabat kesultanan, tokoh adat, masyarakat hingga generasi muda menjadi bagian penting dalam memastikan tradisi tersebut tidak terputus.
Sebelumnya, Aulia juga menegaskan bahwa Erau bukan sekadar pesta adat tahunan atau tontonan budaya, melainkan simpul warisan leluhur, fondasi identitas dan mata rantai peradaban Kutai yang terus hidup melintasi zaman. “Melalui sinergi bersama, nilai-nilai adat dan budaya Kutai diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi terus diwariskan dan dipahami oleh generasi penerus,” pungkasnya. (adv)

Selasa, 22/09/2026
Bupati Kukar bersama Wagub Kaltim turut serta pada rangkaian acara sakral Bepelas (heri/korankaltim.com)
TERPOPULER