
Senin, 21/09/2026
Senin, 21/09/2026
Bupati saat hadiri Bepelas malam pertama Erau 2026 (heri/korankaltim.com)

Senin, 21/09/2026

Bupati saat hadiri Bepelas malam pertama Erau 2026 (heri/korankaltim.com)
Penulis : Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menghadiri prosesi Bepelas Malam Pertama dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026 di Museum Mulawarman, Tenggarong, Minggu (20/9/2026) malam.

Prosesi adat tersebut dipimpin langsung Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Sultan Aji Muhammad Ariffin, dan menjadi salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai yang sarat dengan nilai sejarah, budaya dan spiritual masyarakat Kutai.
Bupati Aulia Rahman Basri hadir bersama Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar, Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani, Kajari Kukar Aji Kalbu Pribadi serta unsur Forkopimda dan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Prosesi dimulai dengan penjemputan Sultan oleh kerabat kesultanan yang diiringi peniup seruling dari keraton. Setelah itu dilanjutkan dengan tarian sakral, di antaranya Tari Dewa Memanah serta Beganjur yang dibawakan penari laki-laki dan perempuan.
Rangkaian kemudian memasuki prosesi memegang Tapi Juwita dan Tapi Cinde yang memiliki makna simbolis berkaitan dengan rakyat dan kerabat kesultanan. Selanjutnya, Sultan menuju Gong Raden Galuh dengan terlebih dahulu menginjak batu tindakan sebagai pijakan.
Prosesi tersebut kemudian ditandai dengan dentuman meriam yang disesuaikan dengan jumlah malam pelaksanaan Erau. Bagi Bupati Aulia, kehadiran pemerintah daerah dalam prosesi adat seperti Bepelas menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan hubungan antara pemerintah, Kesultanan dan masyarakat dalam merawat warisan budaya Kutai.
“Erau tidak hanya menjadi agenda kebudayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenalkan nilai-nilai adat dan tradisi Kutai kepada generasi muda agar tetap hidup dan dipahami di tengah perkembangan zaman,” ucap Aulia. Untuk diketahui, prosesi Bepelas sendiri memiliki makna spiritual.
Tradisi ini bertujuan meningkatkan spirit raga dan sukma Sultan dari ujung rambut hingga ujung kaki, sekaligus menjadi bagian dari harapan agar Sultan memperoleh kewibawaan dalam menjalankan amanah memimpin rakyat dengan sebaik-baiknya.
Usai prosesi utama, Sultan kembali ke singgasana untuk menyaksikan rangkaian tarian yang dilanjutkan dengan penyerahan tanda mata atau cinderamata. Acara kemudian ditutup dengan makan malam bersama Sultan dan para tamu di ruang tengah keraton kemudian acara Bepelas malam pertama pun berakhir.
Kehadiran Bupati Aulia dalam prosesi tersebut sekaligus memperlihatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Kukar terhadap pelaksanaan Erau sebagai warisan budaya yang terus dijaga keberlangsungannya.
“Melalui sinergi antara pemerintah daerah, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, kerabat kesultanan dan masyarakat, nilai-nilai adat serta budaya Kutai diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi terus diwariskan dan dipahami oleh generasi penerus,” harap Aulia. (ADV)

Senin, 21/09/2026
Bupati saat hadiri Bepelas malam pertama Erau 2026 (heri/korankaltim.com)
TERPOPULER