Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Yandri Susanto kepada Kepala Desa Muara Wis, Kasmir, mengatakan pencapaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi nyata antarunsur masyarakat dan pemerintah desa mampu menghasilkan dampak signifikan bagi kesehatan generasi muda.
Kasmir menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lahir begitu saja, melainkan melalui kerja keras, inovasi, dan komitmen bersama dalam melaksanakan program Sicekatan (Kolaborasi Cegah Atasi Stunting dengan Program Konvergensi). Program ini menekankan sinergi lintas sektor, mulai dari puskesmas, posyandu, kelompok belajar masyarakat (KBM), PKK, hingga dunia usaha yang ikut ambil bagian dalam mendukung upaya pencegahan stunting.
“Tanpa kerja sama berbagai pihak, upaya penurunan stunting tidak akan berjalan optimal. Kami melibatkan puskesmas, posyandu, KBM, PKK, hingga dunia usaha. Bahkan ada perusahaan yang turut menyalurkan bantuan sekitar Rp20 juta untuk mendukung kegiatan ini,” ungkapnya.
Sebelum mencapai tingkat nasional, Desa Muara Wis terlebih dahulu melewati tahapan seleksi yang cukup panjang. Kasmir menuturkan bahwa desanya harus bersaing di tingkat kabupaten dan berhasil menjadi yang terbaik di Kutai Kartanegara. Setelah itu, Muara Wis mewakili Kukar di ajang tingkat Provinsi Kalimantan Timur dan keluar sebagai juara pertama.
“Proses penilaian dari kabupaten hingga nasional berlangsung sekitar satu hingga dua bulan. Setiap tahap kami diminta memaparkan hasil inovasi dan dampaknya terhadap penurunan stunting,” jelasnya.
Prestasi ini bukan hanya sekadar pengakuan nasional, tetapi juga simbol kebangkitan kesadaran kolektif di tingkat desa bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama. (Adv)
Editor: Erwin