Kepala Desa Purwajaya, Adi Sucipto menyebutkan langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menjadikan sektor pertanian herbal sebagai penopang ekonomi masyarakat.
“Kami sudah mulai mengupayakan pengadaan bibit dan memberdayakan 10 Kelompok Wanita Tani (KWT). Jika dikembangkan secara konsisten, kunyit hitam bisa menjadi produk unggulan desa,” ujarnya.
Kunyit hitam dikenal memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan, terutama sebagai bahan obat herbal alami. Melihat potensi besar itu, warga Purwajaya tidak hanya menanam, tetapi juga mengolahnya menjadi kapsul herbal. Produk hasil karya kelompok Pokdawis ini bahkan berhasil menyabet juara tiga tingkat kabupaten dan kini tengah memasuki tahap sertifikasi produk.
Menariknya, Pemerintah Desa Purwajaya sudah menjalin komunikasi awal dengan salah satu rumah sakit herbal terbesar di Asia Tenggara yang berbasis di Bali.
“Mereka siap menampung produk kami, asalkan kualitas dan standar produksinya memenuhi kriteria yang ditetapkan,” jelasnya.
Langkah Purwajaya ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemkab Kukar bersama Pemprov Kalimantan Timur memberikan bantuan berupa pelatihan, peningkatan kualitas kemasan, serta pendampingan proses sertifikasi agar produk herbal desa bisa masuk ke pasar modern maupun apotek.
Lebih jauh, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menyatakan kesiapan untuk menyerap produk herbal lokal, termasuk kapsul kunyit hitam dari Purwajaya. Ini menjadi peluang emas bagi desa untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkuat posisi sebagai sentra tanaman herbal di Kukar.
“Dengan dukungan dari pemerintah daerah, kami optimis Purwajaya bisa menjadi pelopor desa herbal di Kalimantan Timur. Semoga tahun ini menjadi tonggak kebangkitan pertanian herbal dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin