Tidak hanya fokus pada usaha tani, program ini juga memberi ruang belajar bagi petani milenial lewat pelatihan, magang, hingga kerja sama dengan sekolah dan universitas.
Camat Samboja Barat, Burhanuddin, menyebut bahwa KITA SAMBAR kini sudah menjalin kerja sama dengan 47 SMK dan 5 universitas di Kalimantan Timur (Kaltim).
Dari kerja sama itu, ribuan siswa dan mahasiswa bisa belajar langsung di lapangan. “Sampai sekarang sudah ada sekitar 20 ribu peserta yang mendapat sertifikat dari KITA SAMBAR, baik dari kelompok tani, kelompok wanita tani, maupun mahasiswa PKL, dari 47 SMK, kurang lebih 130 siswa aktif magang di sini,” ujarnya.
KITA SAMBAR mengusung konsep pertanian terpadu. Limbah dari satu usaha dimanfaatkan kembali untuk mendukung usaha lainnya, sehingga lebih efisien dan ramah lingkungan.
Bidang yang digarap pun beragam, mulai dari peternakan ayam petelur omega 3, budidaya ikan lele, hingga perkebunan pepaya dan pengolahan hasil pertanian.
“Kami mengelola peternakan ayam petelur omega 3 yang populasinya sekitar 12 ribu ekor. Dari jumlah itu, setiap hari bisa menghasilkan rata-rata 11.200 butir telur,” jelas Burhanuddin.
Selain ayam, KITA SAMBAR juga membudidayakan ikan lele dengan kapasitas produksi sekitar satu ton setiap minggu. Dari sektor perkebunan, pepaya menjadi primadona karena sangat dibutuhkan di Balikpapan.
“Pepaya tidak bisa didatangkan dari luar daerah karena mudah lecet. Jadi peluang pasarnya sangat besar bagi petani lokal,” tambahnya.
Ke depan, KITA SAMBAR juga menyiapkan jurusan baru di bidang Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Program ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya bisa menanam, tetapi juga mengolah hasil pertanian agar punya nilai jual lebih tinggi.
“Harapan kami, semakin banyak anak muda tertarik ke dunia pertanian. Lewat KITA SAMBAR, mereka bisa belajar langsung, punya pengalaman, bahkan membuka usaha sendiri,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin