Melalui program pengabdian masyarakat dari Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda, permainan tradisional berhasil mengubah wajah pendidikan jasmani di sekolah yang terletak di kawasan pesisir Kukar ini.
“Dulu anak-anak lebih suka main gadget, sekarang mereka berlarian dengan gembira main lompat tali dan permainan tradisional lainnya,” ungkap Kepala SDN 029 Samboja, Erwani kepada Korankaltim.com, Rabu (24/9/2025).
Program yang dipimpin Andi Alif Tunru dari UWGM ini berhasil meningkatkan partisipasi siswa dalam aktivitas fisik secara drastis, dari yang awalnya hanya 40 persen menjadi 100 persen.
Pencapaian ini diraih melalui pendekatan unik yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan tujuan kesehatan modern.
Selain menghidupkan kembali permainan tradisional, program ini juga memperkenalkan teknologi kesehatan sederhana di Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Timbangan digital, alat pengukur tinggi badan, termometer, dan tensimeter kini tersedia untuk monitoring kesehatan rutin siswa.
“Dengan alat-alat ini, kami bisa mendeteksi dini masalah kesehatan anak-anak. Ini sangat penting mengingat fasilitas kesehatan terdekat berjarak 5 kilometer dari sekolah,” jelas salah satu anggota tim Nordianiwati.
Selama pelaksanaan kegiatan perkenalan dan praktik alat-alat kesehatan tim pengabdian UWGM melibatkan mitra dari dinas kesehatan setempat yaitu Jumiati.
Ia mendampingi orang tua dan guru serta menjelaskan secara rinci fungsi alat-alat tersebut.
Yang menarik, program ini tidak hanya berdampak pada siswa. Orang tua yang awalnya kurang peduli dengan pola hidup sehat kini terlibat aktif.
Dari survei awal yang menunjukkan hanya 32 persen orang tua memahami gizi seimbang, kini meningkat menjadi 78 persen setelah mengikuti serangkaian workshop.
Hasil monitoring menunjukkan dampak positif yang terukur. Guru melaporkan peningkatan konsentrasi siswa dalam pembelajaran akademik sebesar 65 persen dan penurunan masalah perilaku sebesar 58 persen.
“Ternyata benar, anak yang sehat fisiknya akan lebih fokus belajar. Prestasi akademik mereka juga meningkat,” tambah Erwani.
Keberhasilan program ini menarik perhatian sekolah-sekolah lain di Kecamatan Samboja. Setidaknya dua sekolah dasar telah menyatakan minat untuk mengadopsi model serupa.
Tim pengabdian UWGM telah menyiapkan modul pembelajaran dan dokumentasi lengkap yang dapat digunakan sebagai panduan replikasi.
“Kami berharap model ini bisa diterapkan di sekolah-sekolah lain, terutama di daerah terpencil dengan kondisi serupa,” harap Andi Alif Tunru.
Program yang didanai oleh Direktorat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini membuktikan bahwa solusi sederhana berbasis kearifan lokal dapat memberikan dampak besar bagi peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan anak Indonesia.
Atas terobosan ini, Camat Samboja, Damsik memberikan apresiasi kepada Tim Pengabdian UWGM atas kontribusinya dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat baik dari bidang pendidikan maupun kesehatan.
“Terima kasih dan kami apresiasi atas program nya yang diimplementasikan di SDN 029 Samboja, semoga sekolah lainnya juga bisa mereplikasi hal tersebut,” tegas Damsik. (Adv)
Editor: Erwin