Kepala Desa Bukit Raya, Harnoto menceritakan bagaimana kondisi pertanian di desanya mulai berubah sejak sistem pengairan diperbaiki.
“Dulu kalau hujan deras, air bisa menggenang sampai berbulan-bulan. Sekarang, paling lama dua sampai tiga hari sudah surut, karena memang irigasinya sudah memadai,” jelasnya, Rabu (24/9/2025).
Perbaikan yang dimaksud melibatkan pembukaan lima titik saluran air baru yang terhubung langsung ke Sungai, sumber utama irigasi di wilayah tersebut. Dengan jalur air yang kini lebih terbuka dan tertata, para petani bisa menyesuaikan pola tanam mereka secara lebih teratur. Masa panen pun menjadi lebih bisa diprediksi.
Selain memudahkan, keberadaan saluran ini juga mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat genangan atau banjir lokal yang selama ini menjadi masalah musiman.
“Sekarang air cepat jalan. Kalau sudah begitu, kami bisa tanam sesuai musim dan tidak khawatir lagi kebanjiran,” ungkapnya.
Keterlibatan warga dan kelompok tani dalam merawat fasilitas yang sudah ada menjadi penentu utama. Mereka rutin melakukan penyemprotan dan pembersihan saluran air setiap satu hingga dua bulan.
“Kalau kita sudah menerima bantuan, ya kita wajib merawat. Jangan sampai saluran sudah bagus tapi tersumbat karena tidak diperhatikan,” ujarnya.
Hasil dari perbaikan sistem irigasi ini cukup menggembirakan. Di beberapa area, hasil panen bisa mencapai hingga tujuh bin (karung) per musim angka yang sebelumnya sulit dicapai.
Tentu, hasil ini tetap bergantung pada rotasi dan waktu tanam yang tepat. Namun yang paling penting, para petani kini merasa lebih yakin dan termotivasi.
“Kita tinggal rawat dan jalankan. Hasilnya, Alhamdulillah, sudah mulai terlihat,” pungkasnya.
Harnoto dan warga berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi terus memberikan dukungan, agar program pertanian yang berkelanjutan bisa berjalan dengan baik dan menjangkau lebih banyak desa. (Adv)
Editor: Aspian Nur