Komoditas andalan berupa ikan nila tak hanya menggerakkan roda perekonomian desa, tapi juga sukses menembus pasar di berbagai kota besar di Kalimantan Timur.
Kepala Desa Loa Kulu Kota, Mohammad Rizali, menyampaikan bahwa saat ini terdapat lebih dari 10 kelompok perikanan aktif yang fokus membudidayakan ikan nila.
“Kelompoknya tersebar di berbagai lokasi dan kebanyakan budidaya ikan nila,” tuturnya.
Dalam satu kali panen, kelompok perikanan skala menengah bisa menghasilkan hingga satu ton ikan nila. Sementara itu, kelompok berskala kecil rata-rata menghasilkan delapan hingga sembilan pikul per panen.
“Yang sudah skala menengah bisa minimal satu ton per panen. Untuk skala kecil, sekitar delapan sampai sembilan pikul,” lanjutnya.
Yang menarik, proses panen umumnya dilakukan pada malam hari. Usai panen, ikan-ikan segar ini langsung dikirim ke berbagai daerah seperti Samarinda, Tenggarong, Muara Badak, hingga Balikpapan.
“Kami sudah memiliki jaringan distribusi ke berbagai tempat pelelangan ikan di daerah-daerah tersebut. Permintaan cukup stabil, bahkan terus meningkat,” tambahnya.
Tingginya permintaan pasar menjadi bukti bahwa ikan nila dari Loa Kulu Kota telah diterima dengan baik oleh konsumen. Selain memberi keuntungan ekonomi bagi warga, sektor ini juga membuka banyak lapangan kerja, mulai dari proses budidaya, panen, pengemasan, hingga distribusi.
Pemerintah desa pun turut aktif memberikan dukungan agar sektor ini terus tumbuh. Mulai dari pelatihan, fasilitasi perizinan, hingga penguatan kelembagaan kelompok usaha.
“Kami bantu dari sisi pelatihan hingga pencatatan izin usaha. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan usaha,” pungkasnya.
Dengan produksi yang stabil, infrastruktur yang memadai, dan jaringan pasar yang luas, Loa Kulu Kota dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sentra penghasil ikan nila terbesar di Kutai Kartanegara. (Adv)
Editor: Erwin