Pameran yang berlangsung hingga 27 September ini menghadirkan hasil kreasi pelaku usaha lokal, mulai dari olahan pangan hingga aksesori kayu khas daerah.
Kabid Pengembangan UKM Diskop UKM Kukar, Fathul Alamin, mengatakan partisipasi tahun ini mengusung dua tema utama. “Yang pertama adalah Koperasi Desa Merah Putih dengan produk olahan makanan berbahan hasil pertanian, buah-buahan, dan sayur-sayuran dari Tenggarong Seberang,” jelasnya.
Tema kedua adalah produk cendera mata khas Kutai Kartanegara berupa jam tangan dan kacamata yang dibuat dari kayu ulin, legam, serta menggeris.
“Produk ini menjadi ciri khas daerah kita. Meski ada yang masih baru, khusus jam kayu legam dan menggeris sudah mulai menembus pasar ekspor sejak beberapa waktu lalu,” jelas Fathul.
Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah jam tangan kayu Menggeris, karya Iendy Zalviean. Ia mengungkapkan, gagasan membuat jam kayu tersebut lahir setelah pandemi COVID-19 mereda pada 2021. “Saya melakukan riset untuk menciptakan kerajinan tangan yang bisa menjadi bisnis berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, tiga kriteria menjadi dasar lahirnya produk ini: bahan baku yang langka, proses produksi yang rumit, dan inovasi yang tinggi. “Jam kayu Menggeris memenuhi semua itu. Selain detailnya yang presisi, produk ini juga membawa nilai seni kecil yang mencerminkan kearifan lokal,” ujarnya.
Produk Menggeris kini telah menembus pasar internasional. “Alhamdulillah, kami sudah mengirimkan ke California, Dubai, dan Malaysia. Ini membuktikan kerajinan lokal bisa bersaing di panggung dunia,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur