Dari pelatihan tersebut lahir sejumlah inovasi pelayanan publik di tingkat kelurahan, yang diharapkan mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Kasi Pemerintahan Kelurahan Melayu, M Rony Trianto memperkenalkan inovasi Siap RT sebagai langkah awal memperbaiki sistem pelayanan di tingkat Rukun Tetangga (RT) maupun kelurahan.
Selama ini warga masih harus melalui prosedur manual untuk mendapatkan surat pengantar, mulai dari RT, diteruskan ke kelurahan, lalu kembali lagi ke warga. Dengan hadirnya Siap RT, proses tersebut kini lebih terstruktur, efisien, dan sistematis meskipun masih berbasis non-digital.
“Inovasi ini bermanfaat bagi internal kelembagaan RT, seperti penguatan koordinasi dengan kelurahan serta tersedianya panduan kerja yang jelas. Dari sisi eksternal, masyarakat mendapat akses layanan lebih mudah dan aparat lebih responsif dalam melayani warga,” jelasnya, Jumat (5/9/2025).
Dari sisi sosial, Kasi Sosial Kelurahan Melayu, Lenny Dharmayanti menghadirkan program Melayu Peduli yang berfokus pada penanganan stunting.
Program ini merupakan singkatan dari Membangun Empati Lewat Aksi yang Unggul melalui Pendampingan, Edukasi, Donasi, dan Layanan Inklusif.
Melalui konsep orang tua asuh, masyarakat diajak memberikan donasi sukarela berupa kebutuhan gizi bagi anak-anak terdampak stunting, bekerja sama dengan Puskesmas agar bantuan yang diberikan tepat guna.
“Sejauh ini ada 10 anak terdampak stunting yang terdata, dengan 5 di antaranya masuk kategori ekstrem. Tahap awal kami fokus pada 5 anak tersebut. Sudah ada 8 orang tua asuh yang bergabung," bebernya.
Lebih lanjut, kesempatan ini diberikan siapa saja yang peduli untuk membantu sehingga sedikit demi sedikit angka stunting di Kelurahan Melayu dapat ditekan.
Program Melayu Peduli juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari Puskesmas, PKK, Posyandu, DPMD, hingga Dinas Kesehatan. Kolaborasi ini diharapkan membuat penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Sementara itu, dari bidang lingkungan, Kasi Pembangunan Kelurahan Melayu, Taufik Anwar menggagas program JUMPAMU (Jemput Sampah Melayu).
Program ini menitikberatkan pada pengelolaan sampah berbasis tabungan, di mana warga maupun pelajar dapat menabung sampah yang ditimbang dan dikonversi ke nilai ekonomi, dengan harga berkisar Rp700 per kilogram untuk plastik dan Rp800 per kilogram untuk kertas.
“Melalui Jumpamu Start dan Jumpamu ke Sekolah, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya pelajar, untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan. Tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga menumbuhkan karakter peduli lingkungan, memperkuat nilai gotong royong, dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” ungkapnya.
JUMPAMU telah dijadwalkan berjalan di sejumlah sekolah pada September 2025, seperti SDN 009, SDN 028, SMPN 03, dan MTs Al-Kautsar.
Ke depan, program ini akan diperluas ke sekolah-sekolah lain di Kelurahan Melayu, sekaligus membentuk karakter generasi muda yang peduli lingkungan sejak dini.
Hadirnya tiga inovasi ini menjadi bukti bahwa Kelurahan Melayu berupaya menghadirkan solusi nyata melalui karya aparatur yang sedang mengikuti PKP.
Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga terkait diharapkan dapat menciptakan pelayanan publik yang lebih responsif, lingkungan yang lebih bersih, serta kesejahteraan sosial yang lebih merata. (Adv)
Editor: Aspian Nur