Camat Samboja Barat, Baharuddin, menjelaskan bahwa saat ini lahan sawah di wilayahnya hanya tersisa sekitar 55 hektare. Jumlah tersebut dinilai sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat.
“Untuk padi, kami sangat terbatas. Lahan hanya sekitar 55 hektare. Selebihnya sudah berubah jadi pemukiman,” ungkapnya, Rabu (3/9/2025).
Selain minim lahan, keterbatasan sumber air juga menjadi kendala utama. Kondisi itu membuat biaya operasional sawah membengkak, sehingga sebagian petani memilih membiarkan tanahnya menganggur atau dialihfungsikan. “Kalau air susah, otomatis biaya lebih besar. Banyak tanah yang akhirnya tidak digarap, ada yang jadi kaplingan,” jelasnya.
Meski demikian, Samboja Barat tidak menyerah. Hortikultura justru berkembang pesat, terutama melalui sistem hidroponik. Saat ini, Kelurahan Bukit Merdeka bahkan mampu memasok hingga 80 persen kebutuhan sayuran hidroponik ke Kota Balikpapan.
“Kelurahan Bukit Merdeka bantu suplai 80 persen kebutuhan sayuran hidroponik ke Balikpapan,” terangnya.
Jenis sayuran yang paling banyak diproduksi adalah sawi dan beragam sayuran daun lain yang cocok ditanam dengan metode hidroponik. Potensi ini membuat Samboja Barat mulai dikenal sebagai salah satu sentra sayuran hidroponik di Kukar.
Melihat keberhasilan tersebut, Baharuddin berharap dukungan pemerintah bisa lebih fokus pada penguatan hortikultura.
Ia menilai perlu ada pelatihan teknis berkelanjutan, dukungan pemasaran, serta jaminan ketersediaan pupuk agar petani dapat berproduksi secara stabil.
“Hidroponik sudah terbukti menopang ekonomi warga. Tinggal bagaimana kita kembangkan lebih serius,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur