Danau yang biasanya menjadi primadona wisata air ini mengalami penyusutan debit hingga nyaris kering sepanjang 3,34 kilometer. Meski begitu, lokasi wisata ini justru tetap dikunjungi warga, bahkan berubah fungsi layaknya pantai dadakan.
Kepala Desa Kedang Murung, Junaidy, mengatakan kondisi kering total seperti ini baru pertama kali terjadi sejak wisata Danau Tanjung Sarai dibuka pada 2019.
“Biasanya kemarau tidak separah ini. Baru tahun ini air danau surut sampai habis,” jelasnya.
Kendati daya tarik wisata airnya terhenti sementara, pengelola tidak menutup lokasi. Wisatawan masih bisa masuk dan menikmati suasana unik yang jarang terjadi.
“Yang tutup hanya aktivitas wisata airnya, tapi area wisata tetap dibuka. Pengunjung sekarang datang untuk menikmati pemandangan seperti di pantai,” tambahnya.
Menariknya, kondisi kering ini justru membuka peluang aktivitas lain bagi warga. Sejumlah pengunjung memanfaatkan hamparan danau kering sebagai arena bermain dan spot foto, sementara sebagian warga menjadikannya ajang berburu ikan di sisa aliran sungai sekitar.
“Sekarang kalau mau tangkap ikan, ya di sungainya. Masih ada hasilnya walau sedikit,” ucapnya.
Meski dampak terhadap jumlah pengunjung ada, penurunannya tidak terlalu signifikan, terutama di akhir pekan.
“Kalau weekend, masih lumayan ramai. Masyarakat penasaran melihat danau kering. Jadi walau berbeda, tetap jadi daya tarik, kata wisatawan itu seperti di pantai,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin