Para mahasiswa asal Kukar yang berkuliah di Yogyakarta menghadirkan suasana kampung halaman mereka. Dari permainan rakyat seperti enggrang, bakiak, hingga begasing, acara ini menghadirkan pengalaman budaya yang autentik, membentuk ruang pertemuan hangat antara generasi muda dan akar tradisi. Semua itu dikemas bukan hanya untuk nostalgia, melainkan sebagai cara membumikan identitas di tanah rantau.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, hadir langsung dalam acara ini, menjadikan Eroh Bebaya sebagai kunjungan resmi pertamanya pasca-pelantikan periode kedua bersama Bupati Aulia Rahman Basri. Di hadapan ribuan penonton dan tamu undangan, Rendi menyampaikan makna penting dari festival ini. “Kami ingin menjadikan budaya sebagai wajah Kukar. Bukan hanya di Kalimantan, tapi di panggung nasional bahkan dunia,” ungkapnya.
Menurut Rendi, warisan budaya Kutai bukan hanya kebanggaan lokal, tetapi juga fondasi sejarah nasional. “Kutai Kartanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Republik ini. Budaya kami adalah kekayaan yang membentuk Indonesia sejak mula,” ucapnya.
Ia juga menyebut bahwa kearifan lokal itulah yang membuat wilayah Kukar menjadi bagian penting dari Ibu Kota Nusantara (IKN) yang baru.
Pesan Wabup masa depan Kukar harus dibangun bukan hanya oleh sumber daya alam, tetapi oleh manusia-manusia muda yang berpikir dan berakar kuat pada budayanya. “Untuk muda mudi Kukar pesannya tanamkan bahwa keberhasilan tidak hanya dicapai di ruang kuliah, tapi juga lewat pelestarian identitas,” tandasnya. (adv)