Ia menyoroti bahwa arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 harus ditopang oleh nilai-nilai fundamental yang berakar pada Pancasila. Asta cita yang menjadi delapan agenda prioritas nasional menempatkan penguatan ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia sebagai fondasi utama.
“Kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Tanpa nilai-nilai Pancasila, pertumbuhan ekonomi bisa melahirkan ketimpangan, dan kemajuan teknologi bisa menjerumuskan kita pada dehumanisasi,” jelasnya disela sambutan, Minggu (1/6/2025).
Ia mengingatkan globalisasi dan perkembangan dunia digital menghadirkan tantangan serius terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Edi menyebut maraknya ekstremisme, intoleransi, hingga penyebaran hoaks di ruang digital sebagai ancaman nyata terhadap kohesi sosial dan integrasi nasional. Karena itu, revitalisasi nilai Pancasila harus dilakukan di semua dimensi kehidupan.
Bupati Kukar menyebut empat sektor utama yang harus menjadi fokus pembumian Pancasila, pendidikan, birokrasi, ekonomi, dan ruang digital. Dalam dunia pendidikan, ia menekankan pentingnya menanamkan Pancasila sejak usia dini, bukan hanya secara teoritis tetapi melalui di lingkungan sekolah.
Di sektor birokrasi dan pemerintahan, Edi mengajak seluruh aparatur untuk menjadikan Pancasila sebagai landasan dalam memberikan pelayanan publik. “Kebijakan harus mencerminkan semangat kemanusiaan dan keadilan sosial, bukan kepentingan kelompok,” ungkapnya.
Dalam bidang ekonomi, ia mengingatkan agar pembangunan tidak hanya dinikmati segelintir elite, tetapi menyentuh lapisan bawah melalui pemberdayaan UMKM, koperasi, dan ekonomi kerakyatan. Keadilan sosial menurutnya bukan sekadar cita-cita, tetapi harus menjadi orientasi nyata dalam kebijakan pembangunan daerah maupun nasional.
Adapun di ruang digital, Edi mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif bahwa media sosial dan platform daring bukanlah ruang bebas nilai.
“Pancasila harus menjadi panduan dalam bermedia sosial. Mari kita perangi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi dengan literasi digital serta semangat gotong royong,” serunya.
Edi juga memberikan apresiasi kepada BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) yang terus menggulirkan program strategis di berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga birokrasi. Namun, ia menekankan keberhasilan pembumian Pancasila membutuhkan kolaborasi dari seluruh elemen bangsa.
“Jangan jadikan Hari Lahir Pancasila sekadar seremoni, jadikan momentum ini sebagai refleksi untuk memperkuat komitmen dan tindakan nyata dalam mewujudkan Indonesia yang bukan hanya maju secara teknologi dan ekonomi, tetapi juga secara moral dan spiritual,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin