Plt Kepala DP3A Kukar, Hero Suprayetno menegaskan pentingnya peran pendampingan dan penguatan jejaring layanan sebagai garda terdepan perlindungan keluarga.
“Peran DP3A Kukar sebagai pendukung dan pendamping keluarga, terutama untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap perempuan maupun anak,” jelasnya, Kamis (22/5/2025).
Ia menambahkan kasus-kasus kekerasan paling banyak bermula dari konflik internal keluarga inti, termasuk masalah komunikasi, tekanan ekonomi, dan ketimpangan peran dalam rumah tangga.
Saat ini DP3A Kukar memperkuat pendekatan berbasis komunitas melalui kelompok perempuan kepala keluarga (PEKKA) dan organisasi sosial keagamaan perempuan.
“Perempuan kepala keluarga ini sangat rentan, mereka tidak hanya menjadi guru rumah tangga, tetapi juga pencari nafkah utama, maka kami libatkan mereka sebagai agen yang bisa menyampaikan edukasi ke masyarakat,” ucapnya.
Salah satu bentuk kekerasan yang menjadi perhatian utama adalah hubungan seksual inses (incest) yang melibatkan anak-anak di bawah umur.
Fenomena ini disebutkan Hero telah menjadi tren mengkhawatirkan secara nasional, bahkan baru-baru ini DP3A Kukar menangani kasus anak sekolah di Sangasanga yang terlibat dalam distribusi konten pornografi.
“Kalau ini tidak segera diantisipasi, maka anak-anak kita akan semakin rentan, apalagi di era digital seperti sekarang,” ucapnya.
Secara langsung tidak mungkin menjangkau semua masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, pihaknya membentuk simpul-simpul komunikasi melalui tokoh agama, organisasi perempuan, dan kelompok PEKKA untuk memperluas penyebaran informasi, edukasi, dan pendampingan keluarga.
“Kita libatkan mereka agar jadi perpanjangan tangan kami, mereka bisa menyampaikan pesan penting ke lingkungannya masing-masing,” tegasnya.
Di tengah kondisi yang kompleks, DP3A Kukar mendorong terbentuknya lebih banyak agen pendamping di setiap kecamatan. Hero berharap, upaya antisipatif yang dilakukan melalui pendekatan lintas sektor ini bisa mengurangi potensi munculnya kasus-kasus serius seperti incest, kekerasan dalam rumah tangga, hingga penyalahgunaan teknologi oleh anak-anak.
“Tentunya, dengan adanya gerakan ini kita ingin masifkan terutama dari keluarga lebih dulu, kami ingin keluarga di Kukar menjadi tempat yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak,” tutupnya. (Adv)
Editor: Erwin