Kepala DLHK Kukar, Slamet Hardiraharjo menyatakan bahwa pendekatan baru dalam pengolahan sampah tak hanya berfokus pada penanggulangan limbah, tetapi juga pada pengambilan nilai ekonomis dari sampah rumah tangga hingga skala kawasan.
Slamet menyebut salah satu bentuk nyata dari inovasi tersebut adalah pemanfaatan sampah organik dan anorganik yang dikumpulkan dari bank sampah untuk diolah lebih lanjut di tingkat rumah tangga.
"Sampah rumah tangga yang sudah dipilah di bank sampah tidak langsung dibuang, melainkan diproses menjadi bahan yang bernilai jual seperti batako dan paving block sudah ada contohnya di Kecamatan Tenggarong Seberang," jelasnya, Sabtu (10/5/2025).
Menurutnya, hal ini telah diterapkan di beberapa wilayah, termasuk di daerah Tenggarong Seberang, yang kini menjadi percontohan pemanfaatan sampah plastik dan anorganik menjadi material konstruksi.
"Kami melihat potensi besar di wilayah ini, dan masyarakat mulai merasakan manfaat ekonomi dari kegiatan daur ulang tersebut," ujarnya.
Sementara itu, di Loa Kulu, DLHK Kukar pernah memfasilitasi riset dan pengembangan pengolahan sampah organik menjadi bahan bakar.
Proses tersebut melibatkan teknologi insulin sebuah metode konversi sampah menjadi bahan bakar minyak seperti solar. "Meski masih dalam tahap uji coba, ini menjadi bukti bahwa inovasi lokal bisa menjawab tantangan pengelolaan limbah," tuturnya.
Tahun 2023 menjadi titik balik dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah di Kukar. DLHK mencatat bahwa di empat kecamatan Loa Kulu, Loa Tebu, Muara Muntai, dan Muara Wis telah dikembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Langkah ini didukung dengan pelatihan masyarakat dan penyediaan fasilitas pemilahan serta pengolahan awal.
Upaya ini tak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Beberapa kelompok masyarakat telah membentuk koperasi daur ulang yang kini mampu memasarkan produk turunan sampah ke luar daerah. “Dari sampah bukanlah akhir dari siklus konsumsi, tetapi awal dari potensi ekonomi baru,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur