Proyek ini sebelumnya dicanangkan menggunakan APBN dan APBD. Namun, karena efisiensi anggaran dari Pemerintah Pusat, berdampak pada perencanaan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kutai Kartanegara, Linda Juniarti, menjelaskan bahwa awalnya proyek ini direncanakan didanai dari dua sumber, yakni DAK sebesar Rp30 miliar dan dana APBD sekitar Rp20 miliar. Namun, akibat kebijakan efisiensi dari Kementerian Keuangan, alokasi DAK tersebut akhirnya ditiadakan.
“DAK kita nol, karena kena efisiensi anggaran dari pusat. Kami sudah bersurat ke Sekda agar proyek ini dapat dijalankan melalui APBD, menghubungkan tiga kecamatan sekaligus,” jelasnya, Senin (5/5/2025).
Lanjutnya, meskipun melalui alokasi APBD akhirnya disetujui dengan besaran pendanaan Rp50 miliar, pengerjaan pelaksanaan di lapangan masih menemui hambatan yaitu situasi banjir.
“Sudah masuk tahap lelang dan pemenang juga sudah ada, tapi belum dapat dikerjakan karena banjir, kita harus menunggu kering dulu agar pekerjaan ini tidak gagal,” ucapnya.
Menurutnya, jika pekerjaan tetap dipaksakan dalam kondisi lembab atau ada genangan, kualitas jalan akan terganggu. Oleh karena itu, pelaksanaan menunggu banjir surut agar kondisi lapangan benar-benar siap.
Perbaikan jalan akan menggunakan metode rigid atau beton bertulang. Hal ini dipilih karena jalan berada di kawasan hulu yang rawan tergenang, dan aspal dikhawatirkan tidak akan bertahan lama dalam kondisi mobil bermuatan besar berlalu lalang.
“Karena sering tergenang, kami putuskan akan gunakan rigid. Kalau aspal, bisa cepat rusak dan umurnya pendek,” tegasnya.
Proyek ini menjadi perhatian serius mengingat akses vital bagi masyarakat di tiga kecamatan sangat bergantung pada keberadaan jalan tersebut. Dinas PU berharap kondisi cuaca segera membaik agar pekerjaan bisa segera dilanjutkan.
“Tahun ini kita akan kerjakan perbaikan jalan tersebut, paket pengerjaan sudah masuk prioritas,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin