Hal ini disampaikan dalam ajakan agar para peserta didik mulai dilibatkan dalam kunjungan ke situs-situs cagar budaya yang ada di Kukar.
Pamong Budaya Ahli Muda, Cagar Budaya dan Permuseuman, Disdikbud Kukar, M. Saidar, sering di sapa Deri mengungkapkan pelajar saat ini perlu diberikan pemahaman lebih luas mengenai kekayaan sejarah di lingkungan mereka sendiri.
“Penting sekali mengenal budaya agar anak-anak kita tahu sejarah, termasuk cagar budaya yang ada di Kukar, harapannya setiap ada studi tour itu kunjungannya ke situs-situs budaya,” ungkapnya, Jumat (2/5/2025).
Ia menegaskan saat ini Kukar memiliki banyak peninggalan bersejarah yang belum banyak disentuh dalam program pendidikan sekolah. Sayangnya, belum terlihat adanya agenda rutin dari sekolah-sekolah untuk mengadakan kunjungan ke situs tersebut.
Beberapa lokasi yang dimaksud antara lain Makam Kesultanan Kutai dan Taman Titik Nol di Tenggarong, yang juga menjadi lokasi Tugu Persatuan. Tempat-tempat ini menyimpan sejarah panjang kerajaan dan peradaban lokal.
"Kita punya kawasan budaya di jalan KH Dewantara dan Jalan Kartanegara itu kalau kita kulik banyak nilai sejarah, dan ini perlu diketahui generasi kita saat ini," ucapnya.
Kegiatan kunjungan yang dimaksud dianggap sebagai media belajar langsung yang sangat efektif bagi pelajar. Tidak hanya menambah wawasan sejarah, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah sendiri.
Pihaknya berharao ada sinergi antara sekolah dan pemerintah daerah untuk menjadikan kunjungan budaya sebagai bagian dari kurikulum atau ekstrakurikuler. Dengan begitu, peserta didik bisa lebih dekat dengan warisan leluhur mereka.
"Fokus kami kedepan situs budaya ini bisa diakses secara online guna membangun kesadaran sejak dini bahwa budaya lokal layak dikenali dan dilestarikan," pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur