Apel tersebut dilaksanakan di halaman kantor bupati Kukar, dihadiri ratusan murid SD beserta tenaga pendidik. Jumat (2/4/2025) pagi tadi.
Sekda Kukar Sunggono membacakan amanat Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Mu'ti menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor demi mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai amanat konstitusi.
Sunggono mengatakan peringatan Hari Pendidikan Nasional bukanlah sekadar upacara seremonial. Ia mengajak semua pihak untuk menjadikan momen ini sebagai titik balik dalam memperkuat dedikasi terhadap pendidikan sebagai hak dasar dan hak sipil.
“Tidak boleh ada diskriminasi dalam mendapatkan pendidikan, siapa pun dia, dari latar belakang apa pun,” ungkapnya.
Sunggono juga menyoroti peran strategis pendidikan dalam membangun peradaban dan karakter bangsa. Ia menyebut pendidikan bukan sekadar alat pengajaran, tapi juga pembentuk akhlak, kepribadian, dan agen mobilitas sosial-politik. Dalam konteks ini, mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas nasional dalam Asta Cita keempat.
Sebagai bentuk konkret, menurut Sunggono, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengupayakan berbagai reformasi sejak Oktober 2024.
Diantaranya adalah perbaikan tata kelola, pembinaan guru, hingga penerapan metode pembelajaran mendalam (deep learning), tes kemampuan akademik (TKA), dan pengenalan teknologi kecerdasan buatan (AI) di sekolah-sekolah.
“Revitalisasi pendidikan bukan hanya soal kurikulum atau infrastruktur, tetapi juga tentang guru sebagai aktor utama. Guru harus menjadi agen pembelajaran sekaligus agen peradaban,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan dan kualifikasi guru agar mereka dapat menjalankan peran sebagai mentor dan konselor yang dekat dengan murid. “Kami ingin menumbuhkan generasi yang sehat secara jasmani dan rohani,” ucapnya.
Sunggono menyerukan pentingnya partisipasi semesta kolaborasi antara pemerintah, orang tua, masyarakat, dunia usaha, dan media dalam menciptakan sistem pendidikan yang tangguh.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh gotong royong untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur