Dengan menampilkan bazar UMKM, festival ini memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil untuk mempromosikan dan menjual produk mereka langsung kepada masyarakat.
Hal ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan daya saing mereka.
Plt Kadis Koperasi dan UKM, Thaufiq Zulfian Noor menyebutkan bahwa Festival Cenil bukan hanya soal kuliner, tetapi juga ajang promosi potensi ekonomi desa.
“Kita melihat ada pengembangan kuliner, budaya, hingga produk kreatif, semua disatukan dalam satu panggung yang mencerminkan semangat gotong royong,” ungkapnya, Rabu (30/4/2025).
Sejak pertama kali digelar tahun 2018, Festival Cenil selalu mengalami inovasi. Tahun ini, selain sajian kuliner, juga hadir bazar buku bacaan, pertunjukan seni, dan atraksi budaya yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat.
“Festival ini menjadi momen penting untuk memberdayakan masyarakat secara ekonomi sekaligus menguatkan identitas desa. Ia berharap pemerintah daerah terus mendukung kegiatan seperti ini agar dampaknya bisa meluas,” ujarnya.
Dengan nilai-nilai kolaborasi dan kebersamaan yang kental, Festival Cenil membuktikan bahwa pendekatan berbasis budaya mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi desa.
“Dari partisipasi aktif masyarakat menjadi modal utama dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing semoga terus bisa di lestarikan,” tutupnya. (Adv)
Editor: Erwin