Pembongkaran jembatan yang masuk kawasan Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan merupakan bangunan ikonik pada masa kolonial itu mendapat reaksi pro dan kontra dari masyarakat.
Banyak masyarakat berharap bangunan tersebut tidak dibongkar mengingat nilai historisnya yang masih sangat kental dan menjadi bangunan peninggalan yang seharusnya dijaga keutuhannya.
Menyikapi pro dan kontra ini, Dinas PU selaku organisasi perangkat daerah (OPD) teknis berusaha memberikan pemahaman kepada masyarakat.
“Sebenarnya kami khawatir membiarkan jembatan itu karena usianya sudah lama dan kita lihat dari bawah sudah korosi. Nanti kalau terjadi apa-apa, misal runtuh seperti di Jembatan Kutai Kartanegara nanti yang disalahkan OPD teknisnya kenapa tidak melakukan penggantian padahal jembatan itu sudah seharusnya diganti,” ungkap Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti.
Rencana peremajaan jembatan ini sebenarnya sudah diupayakan pada tahun-tahun sebelumnya, serta sudah dilakukan kajian teknis yang mendalam, tetapi baru dianggarkan tahun ini dengan pagu sebesar Rp58 miliar.
“Sebenarnya dari segi teknis kami melakukan upaya untuk menjaga keamanan juga bagi pengguna jalan. Mungkin ya masyarakat awam kadang gak, padahal nanti manfaatnya lebih besar, lebih bagus dan jalannya pun lebih lebar bisa mengurangi kepadatan,” jelas Linda.
Selain segi keamanan dan fungsional yang lebih berpikir untuk kebaikan bersama, kondisi lalu lintas pada jam-jam tertentu memang diketahui terjadi kepadatan pada ruas kawasan jembatan ini. Hal ini, lanjut Linda, karena jembatan yang ada hanya memungkinkan untuk satu arah.
“Semisal di Mangkuraja itu juga sudah krodit itu kemacetannya, apalagi jam-jam anak sekolah pagi, dan sore kemudian pada saat hujan, banyak orang keluar pakai kendaraan roda empat. Ya dengan itu (pembangunan jembatan,Red) kita bisa mengurai arus lalu lintas tidak semacet yang ada,” jelasnya.
Untuk diketahui, kontraktor yang mengerjakan kegiatan pembangunan Jembatan Besi Tenggarong, yakni PT Putra Nanggroe Aceh telah bersurat secara resmi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar dalam hal koordinasi rencana kegiatan.
Pihak Disdikbud Kukar pun memberikan respons cepat terkait hal ini. Dalam keterangan tertulisnya, Kepala Disdikbud Kukar Thauhid Afrilian Noor menegaskan pihaknya mengusulkan agar pembongkaran jembatan ditunda terlebih dahulu.
“Hasil koordinasi saya dengan Pak Wiyono Kadis PU, hari Senin akan diadakan rapat mengundang sultan, sempekat dan lainnya membahas dan diskusi terkait Jembatan Besi. Kami dari Disdikbud akan menyurati pelaksana proyek agar pembongkaran tanggal 15 ditunda,” tegas Thauhid dalam keterangan tertulisnya yang diterima korankaltim.com, Minggu (13/4/2025). (Adv)
Editor: Supiansyah