Khususnya tiga pustu di Kecamatan Kembang Janggut, yakni Pustu Desa Bukit Layang, Pustu Desa Kelekat, dan Pustu Desa Genting Tanah yang baru saja diresmikan.
Puskesmas Pembantu berperan penting dalam mendukung berbagai layanan seperti kegiatan posyandu, imunisasi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, penyuluhan kesehatan, pemantauan penyakit (surveilans), pemberdayaan masyarakat, serta memperkuat layanan rujukan dan upaya promotif-preventif dalam kesehatan masyarakat.
Dalam arahannya, ia menekankan bahwa keberadaan Pustu tidak boleh terabaikan karena menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat.
“Puskesmas Pembantu itu kan struktur dari induknya Puskesmas. Jadi yang pertama yang selalu saya arahkan, pimpinan Puskesmas induknya harus ingat kepada pembantunya ini,” tegasnya.
Menurutnya, perhatian terhadap Pustu harus dimulai dari hal-hal mendasar seperti supervisi rutin dan kelengkapan obat-obatan. Ia mengatakan kinerja sebuah Puskesmas induk juga ditentukan oleh seberapa optimal Pustu-nya dalam melayani masyarakat. “Apalagi itu memang pusat pelayanan di tengah-tengah masyarakat,” tuturnya.
Pemerintah daerah juga terus berupaya memenuhi sarana dan prasarana Pustu, termasuk memperkuat sumber daya manusianya. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah kebijakan pemanfaatan Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) di bidang kesehatan.
“Saya ambil langkah itu, ada saya berikan kebijakan BKKD di bidang kesehatan. Jadi kenapa? Supaya nanti merekrut bidan langsung di tingkat desa bersama dengan Dinas Kesehatan,” terangnya.
Bupati Edi secara tegas menyebutkan syarat bahwa tenaga kesehatan di Pustu khususnya bidan yang direkrut, harus berasal dari desa setempat.
Tujuannya jelas, mencegah tingginya angka perpindahan karena alasan pribadi, serta menciptakan ikatan emosional yang kuat antara tenaga medis dan masyarakat yang dilayaninya.
“Supaya fokus membantu pelayanan. Kalau dari luar kan pikirannya pulang, saya inginnya benar-benar bekerja untuk melayani masyarakat agar optimal," ucapnya.
Langkah Pemkab Kukar memperkuat Pustu melalui pendekatan lokal bukan hanya soal efektivitas pelayanan, tetapi juga strategi jangka panjang untuk membangun sistem kesehatan yang berkelanjutan. Dengan merekrut putra-putri daerah, pemerintah berharap dapat menciptakan tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki kedekatan emosional dengan masyarakatnya.
Ini adalah wujud nyata dari komitmen membangun dari pinggiran—bahwa setiap warga, di manapun mereka tinggal, berhak mendapatkan layanan kesehatan yang layak dan setara. "Persayaratan untuk pengembangan SDM secara matang kami rencanakan harus putra-putri desa setempat, begitu juga dengan pelayanan agar memudahkan masyarakat berobat," tandasnya. (adv)