Penutupan festival ini menghadirkan artis nasional yakni Band Wali dan sukses menghibur masyarakat Samboja dan sekitarnya yang hadir. Berlangsung selama tiga hari, festival ini menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya mulai dari konser musik band lokal, tari tradisional, pesta adat, hingga bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Sunggono memberikan apresiasi tinggi kepada Dinas Pariwisata (Dispar) atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap Festival Pesisir Nusantara bisa kembali digelar tahun depan dengan lebih meriah dan partisipatif semua pihak.
“Kegiatan ini juga merupakan bagian dari RPJMD Kutai Kartanegara, yang mengusung program Kukar Kaya Festival. Saya berharap festival ini menjadi ajang untuk memperkenalkan potensi pariwisata daerah,” ujarnya.
Sunggono juga menyoroti kehadiran sekitar 100 tenant UMKM yang berpartisipasi dalam bazar. Ia menyebutkan jika diasumsikan terjadi perputaran uang sekitar satu juta rupiah per tenant di setiap malamnya.
“Maka selama tiga hari totalnya bisa mencapai sekitar Rp390 juta. Ini tentu menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan UMKM lokal,” jelasnya.
Sekda juga mengajak seluruh pelaku UMKM dan masyarakat untuk terus menciptakan langkah-langkah kreatif demi mendorong Kukar menjadi daerah yang berbudaya, maju, mandiri, dan sejahtera.
“Mari kita angkat potensi lokal seperti musik, kuliner, kriya, dan sektor ekonomi kreatif lainnya agar semakin dikenal luas,” harapnya.
Sementara itu, Camat Samboja Damsik mengungkapkan bahwa Festival Pesisir Nusantara kini telah menjadi agenda resmi Pemkab Kukar dan tidak lagi sekadar milik Kecamatan Samboja. Ia menyebutkan bahwa dari 120 UMKM yang berpartisipasi, belum semuanya berasal dari 13 kelurahan dan desa yang ada di Kecamatan Samboja.
“Contohnya, salah satu peserta berasal dari Kelurahan Andir Barudaran. Bahkan, ada juga partisipan dari luar daerah seperti Balikpapan dan Samarinda. Ini menunjukkan antusiasme luar biasa,” ujarnya.
Diketahui, rangkaian kegiatan festival ini dibagi dalam beberapa sesi, termasuk sesi adat istiadat yang digelar pada 2 dan 3 Maret. Berbagai ritual budaya seperti injak bara api, belimbur, dan melarung digelar sebagai bentuk ungkapan rasa syukur para nelayan, khususnya di Kelurahan Kuala.
“Alhamdulillah, dampaknya sangat positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, geliatnya sangat terasa,” ujar Damsik.
Damsik mengajak semua pihak, termasuk pemerintah provinsi dan pihak-pihak terkait dengan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, untuk terus mendukung dan mengembangkan event lokal seperti ini. “Tentu perlu mendapat dukungan semua pihak yakni Pemprov Kaltim sebagai wujud nyata karya masyarakat yang patut diapresiasi,” harap Damsik. (Adv)
Editor: Erwin