Adapun yang bertindak sebagai khatib pada salat Idulfitri di masjid kebanggaan masyarakat Loa Tebu ini ialah Ustaz H Mahyudin, sementara yang bertindak sebagai imam adalah H Umar Muklis.
Dalam sambutannya, yang dibacakan oleh Plt Kepala Dinsos Kukar, Yuliandris Suherdiman, Bupati Kukar Edi Damansyah mengucapkan syukur Alhamdulillah karena masih diberi kesempatan untuk merayakan Idulfitri pada 1 Syawal 1446 H setelah berhasil menjalankan kewajiban puasa di bulan suci Ramadan sebulan penuh.
“Esensi Idulfitri adalah hari kemenangan bagi kaum muslim dalam mengukuhkan setiap pribadi untuk kembali kepada kesucian, kemurnian sesuai fitrah manusia. Marilah kita rayakan ini dengan penuh rasa syukur, penuh kebahagian dengan diiringi lantunan kalimat takbir, tahlil dan tahmid memuji kebesaran dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ucapnya.
Lanjutnya, Sholawat yang diiringi dengan untaian salam mengalirkan kerinduan kita kepada Nabi Muhammad SAW, junjungan yang mulia. Berkat risalah Islam dan sunnahnya, ibadah menjadi sempurna, sehingga setiap gerak dan ucapan kita bernilai ibadah dalam bingkai ketaatan.
“Semoga kelak kita semua dihimpunkan bersamanya dan memperoleh syafaatnya untuk meraih ampunan serta kasih sayang Allah, Aamiin ya robbal alamin,” harapnya.
Yuliandris menegaskan bahwa kita baru saja melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh, yang disempurnakan dengan mengeluarkan zakat fitrah dan harta. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah Ramadan tidak hanya meningkatkan dimensi ibadah, tetapi juga mengandung dimensi sosial yang penuh hikmah. Puasa melatih kepekaan kita terhadap nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan.
Salat tarawih, yang pelaksanaannya lebih utama dilakukan secara berjama’ah bersama masyarakat sekitar di masjid, turut mempererat ukhuwah. Zakat fitrah yang dikeluarkan di penghujung bulan Ramadan juga memiliki makna mendalam.
Secara fungsional dan simbolik, perintah zakat fitrah merupakan refleksi dari sasaran sosial yang hendak diraih dalam berpuasa, yaitu komitmen moral dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Esensi spiritualitas Ramadan harus diwujudkan dalam aksi nyata, sebagai kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Spirit “Khairunnas Anfa’uhum Linnas”, yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, harus menjadi landasan dalam setiap tindakan, menjadikan setiap perbuatan sebagai amal kebajikan yang memberi manfaat bagi sesama.
Menjadi harapan kita bersama agar kemenangan ini teraktualisasi dalam sikap, perilaku, dan usaha kita, baik di saat ini maupun di masa yang akan datang, baik dalam kehidupan sebagai individu maupun dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
“Selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan lazimnya kita menjadikan masjid-masjid sebagai tempat beribadah dan ber-i’tikaf guna mendekatkan diri kepada Allah,” ucapnya.
“Masjid menjadi sarana penting bagi Kita untuk menempa mentalitas spiritual, sehingga kita terlatih untuk menjadi pribadi yang takwa, bertawakal, sabar, tangguh dalam beribadah, serta melatih kepekaan batin agar mampu merasakan kehadiran-nya di setiap hela nafas kehidupan. Melalui kesempatan ini Saya menghimbau agar kita terus meningkatkan upaya memakmurkan masjid. Tidak hanya pada momentum bulan Ramadan, setelah Ramadaan pun Kita patut memakmurkan masjid,” tegas Yuliandris. (Adv)
Editor: Erwin