Dalam High-Level Meeting (HLM) yang digelar baru-baru ini, TPID Kukar menegaskan komitmennya untuk memastikan kestabilan harga dan mengantisipasi lonjakan yang berpotensi mengganggu daya beli masyarakat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono menyampaikan pemantauan harga dilakukan secara langsung di Pasar Mangkurawang serta melalui data yang dihimpun dari berbagai pihak, termasuk TPID Provinsi dan Bank Indonesia.
Dari hasil pemantauan, beberapa komoditas seperti ayam potong, cabai dan daging mengalami fluktuasi harga yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
“Minggu lalu harga sempat naik tinggi, kemudian turun, lalu minggu ini naik lagi. Itu terjadi pada ayam potong, cabai, dan daging. Sementara sayuran relatif stabil, dan harga beras juga cenderung stabil,” ujarnya.
Dalam menghadapi situasi ini, TPID Kukar menerapkan strategi mitigasi risiko untuk menekan dampak lonjakan harga. Salah satu langkah yang diambil adalah memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah provinsi, untuk memastikan distribusi bahan pokok berjalan lancar.
Lebih lanjut, TPID Kukar telah menugaskan pegawai di 12 dari 20 kecamatan untuk melakukan pemantauan harian terhadap harga bahan pokok. Jika ditemukan indikasi lonjakan harga di satu wilayah, tim segera mencari tahu penyebabnya dan melakukan tindakan mitigasi.
“Ada sistem pelaporan harga di kecamatan-kecamatan. Jika terjadi lonjakan, kami bisa segera mencari solusi bersama agar tidak terjadi spekulasi diluar kendali,” ujarnya.
Selain fokus pada pengendalian inflasi, TPID Kukar juga tengah mengupayakan agar wilayah ini dapat menjadi salah satu pemasok utama bahan pokok di Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, ada beberapa kendala yang harus diselesaikan terlebih dahulu, termasuk peran pemerintah provinsi dalam mengatur distribusi barang.
“Selama ini memasok kebutuhan beras Kaltim hingga 40 persen, kebutuhan pangan di Kaltim,” katanya.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah telah melakukan pemetaan terhadap wilayah pertanian potensial. Lima kecamatan telah ditetapkan sebagai zona pengembangan pertanian berbasis kawasan untuk meningkatkan produksi dan menjaga keseimbangan harga di pasar.
“Target kami hingga akhir 2026, semua zona pertanian ini bisa berjalan optimal sehingga Kukar dapat benar-benar menjadi wilayah supplier yang kuat,” ucapnya.
Di tengah potensi kenaikan harga, TPID Kukar mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu spekulasi harga. Konsumsi yang terukur dan sesuai kebutuhan akan membantu menjaga stabilitas pasar dan mencegah lonjakan harga yang tidak terkendali.
“Harapannya masyarakat tetap berbelanja seperti biasa, tidak melakukan panic buying. Ini penting agar produsen dan pedagang tidak mengambil kesempatan untuk menaikkan harga secara tidak wajar,” tutupnya. (Adv)
Editor: Erwin