Acara ini berlangsung di Gedung Eks Serapo, kawasan Museum Mulawarman ini menjadi langkah konkret dalam mendorong hilirisasi produk pertanian, terutama kopi, serta meningkatkan kesejahteraan para pelaku industri kopi, termasuk barista dan petani kopi lokal.
Kabid Pengembangan UKM Diskop UKM Kukar, Fathul Alamin menjelaskan inisiatif ini berangkat dari aspirasi komunitas kopi yang ingin memiliki wadah kompetisi di tingkat kabupaten sebelum melangkah ke ajang lebih besar.
Selama ini, barista dari Tenggarong yang ingin berkompetisi harus mendaftar secara individu di tingkat regional atau nasional karena tidak ada seleksi di tingkat kabupaten maupun provinsi. “Kami melihat potensi besar dalam industri kopi di Kukar. Sentra produksi kopi di Perangat, Jonggon, dan Muara Kaman terus berkembang. Di sisi lain, komunitas kopi dan barista lokal juga menunjukkan minat tinggi untuk bersaing di kompetisi nasional," jelasnya.
Respon positif dari masyarakat luar Kukar, termasuk Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan, mendorong panitia untuk memperluas cakupan acara menjadi skala nasional. Dengan tidak adanya batasan kuota peserta, kompetisi ini diproyeksikan menjadi salah satu ajang terbesar di Kalimantan.
Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan barista, tetapi juga dirancang sebagai sarana edukasi dan pengembangan bisnis dalam ekosistem kopi.
Ada tiga pilar utama dalam acara ini yaitu kompetisi kopi bagi Barista dari seluruh Indonesia akan beradu keterampilan dalam berbagai kategori yang mencakup teknik seduh, latte art, hingga penyajian kreatif. Kompetisi ini akan dinilai oleh juri berpengalaman, termasuk barista Indonesia yang telah meraih juara di tingkat internasional.
Seminar dan Workshop bagi sejumlah barista profesional akan berbagi pengalaman dan memberikan pelatihan bagi peserta. Workshop ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan barista lokal serta memberikan sertifikasi bagi mereka agar memiliki standar keahlian yang lebih baik. "Ini juga peluang ekonomi bagi penikmat kopi dan produksi kopi di Kukar, agar dapat dikenalkan di masyarakat luas," tuturnya.
Salah satu tujuan utama dari kompetisi ini adalah meningkatkan nilai profesi barista di Kukar. Saat ini, upah barista di Tenggarong masih berkisar Rp1–2 juta per bulan, jauh di bawah UMR dan lebih rendah dibandingkan kota-kota lain seperti Samarinda, di mana barista bisa mendapatkan take-home pay Rp4–5 juta.
"Harapannya teman-teman Barista di Kukar ini bisa memberikan kualitas sehingga bayaran yang diterima itu bisa diatas UMR," bebernya.
Fathul Alamin berharap, dengan adanya kompetisi ini, apresiasi terhadap profesi barista dapat meningkat, sehingga mendorong perbaikan standar gaji dan kesejahteraan mereka. Selain itu, pemerintah daerah juga berencana untuk memfasilitasi para juara agar dapat bertanding di kompetisi regional, dan nasional. “Harapannya Kukar dapat membangun ekosistem kopi yang lebih kuat, dari hulu ke hilir. Petani kopi di Kukar perlu didorong agar menghasilkan produk berkualitas,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur