Untuk diketahui, kunjungan Gubernur Kaltim Isran Noor ini untuk melihat langsung lahan bekas tambang milik PT Bramasta Sakti yang kini dimanfaatkan untuk areal peternakan sapi potong. Model pengembangan ternak di areal lahan eks tambang diyakini akan sangat membantu upaya pemerintah menuju swasembada daging di Kaltim.
Pasalnya, hingga saat ini Kaltim masih sangat bergantung dengan pasokan sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi. Dikatakan Munawwar, sebenarnya anemo masyarakat setempat cukup tinggi untuk berinvestasi pada peternakan sapi potong, bahkan pada 2018 populasi kepemilikan sapi peternak telah mencapai 1.800 ekor, namun terjadi penurunan secara drastis pada dua tahun terakhir, tepatnya pada 2019 karena banyak sapi yang dijual.
“Hal ini terjadi karena kekhawatiran mereka (petani) terhadap perkembangan populasi sapi yang tidak ditopang daya dukung lahan yang memadai,” jelas Munawwar. Guna dapat meningkatkan pertumbuhan populasi sapi, pihaknya kata Munawwar bahkan memberikan bantuan berupa bibit ternak sapi sejak 2015 sebanyak 55 ekor betina dan 5 ekor jantan.
Bantuan juga pernah dilakukan pada 2018 lalu berupa 14 ekor pejantan pemacek yang bertujuan melakukan up-grading potensi genetic populasi sapi. Dalam hal peningkatan nilai gizi pakan, Disnakeswan juga memberikan bantuan pakan konsentrat sebanyak 3 ribu Kg pada 2019 dan 1,500 Kg pada 2021.
“Kami juga memberikan pelayanan kesehatan hewan berupa pengobatan dan vaksinasi pada 2019 lalu yang tujuannya untuk pemberantasan penyakit dan peningkatan vitalitas individual sapi,”terangnya. (Adv)
Penulis: Maruly
Editor : Bambang Irawan