“Siklusnya itu biasanya Juni hingga Agustus musim kemarau, diakhir tahun baru masuk musim penghujan. Tapi ternyata mulai Juni pun sudah mulai musim penghujan, kalau istilah BMKG itu kemarau basah,” terang Kresnayana.
Sejak Juni 2020 lalu pihaknya sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bahkan sudah berkoordinasi dengan BPBD disejumlah kabupaten/kota, namun karena intensitas curah hujan terjadi cukup tinggi, kasus Karhutla di Kaltim tidak banyak terjadi.
Tercatat kasus Karhutla sempat terjadi di kawasan Kampung Mendung, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) pada Oktober lalu. Akibatnya, sekitar 500 hektare hutan dan lahan habis dilalap api. Lantaran curah hujan juga terjadi di daerah tersebut, membuat lahan yang terbakar tak terus meluas.
Karena saat ini sudah masuk penghujung tahun, hal yang perlu diantisipasi adalah dampak dari curah hujan yang tinggi seperti banjir dan tanah longsor. “Kami di BPBD provinsi ini sifatnya koordinasi saja, karena jika terjadi banjir dan tanah longsor tentu yang lebih dulu ke lapangan adalah tim BPBD kabupaten/kota. Jika kemudian bencana skalanya meluas dan memerlukan bantuan, kami tentu akan terjunkan personel juga ke lapangan,” jelasnya.
Berdasarkan rilis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dampak La Nina tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia. Pada Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi hampir diseluruh wilayah Indonesia, kecuali Sumatera.
Diperkirakan pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kaltim, dan beberapa daerah lainnya seperti Sulawesi, Maluku hingga Papua. BMKG mengimbau pemangku kepentingan lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan penyiapan kapasitas sungai dank anal untuk mengantisipasi debit air yang berlebihan. (adv)
Penulis: Maruly Zainuddin
Editor: Aspian Nur