“Saat ini kami (DKP Kaltim) memang belum ada rencana atau program pengembangan ikan tambala ini, tapi tak menutup kemungkinan kedepan jika memang pasarnya potensial dan cocok untuk dikembangbiakan, kenapa tidak kita coba?,” kata Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Perikanan, DKP Kaltim, Farid.
Menurut Farid, ikan tambela memiliki nilai ekonomis yang tinggi dibanding ikan sejenis lainnya, apalagi harga ikan tersebut jelas Farid sangat tinggi dipasaran dan peminatnya pun cukup banyak. “Biasanya ikan ini (tambela) banyak ditemukan di daerah hulu Mahakam, seperti di Kabupaten Mahulu,” tambahnya.
Saat ini DKP Kaltim sedang fokus untuk mengembangkan tiga jenis ikan laut seperti bawal bintang, kakap putih serta kerapu yang memiliki nilai jual ekspor. Setidaknya, sudah ada sebanyak 7.500 ekor bibit ketiga ikan tersebut yang disiapkan untuk dikembangbiakan menggunakan keramba jaring apung, di wilayah Tanjung Laut, Kota Bontang. “Kami sudah melakukan ujicobanya (budidaya) di Bontang sejak April lalu, dan kami optimistis apa yang kami lakukan ini akan berhasil,” papar Farid.
Seperti diberitakan sebelumnya, DKP Kukar pada Agustus lalu menemukan ikan tambela di Tabang yang merupakan ikan endemik spesies baru bernilai jual tinggi dipasaran. Warna ikan tambela kemerah-merahan, mirip ikan Arwana Super Red Asia yang ditemukan di Sungai Kapuas dan jadi ikan hias di akuarium.
Ikan ini dimasukan ke dalam program Pengembangan Spesies Ikan Lokal (Spiloka) garapan DKP Kukar untuk tujuan pelestarian. Istimewanya, ikan ini laku dijual hingga Rp2 juta per ekor. Tak heran, dengan harga yang fantastis ini, ikan tambela ini pernah dijual ke luar negeri lewat pasar gelap.
DKP Kukar pun sedang memikirkan cara pembudidayaan ikan ini. Pasalnya, ikan tambela lebih terbiasa hidup di air berarus deras dan sangat mustahil bisa cepat beradaptasi jika dikembangbiakan di sungai yang berarus sedang. (adv)
Penulis: Maruly Zainuddin
Editor: Aspian Nur