Ia lantas menganalogikan, sinergitas itu ibarat mendidik seorang anak. Perlu sinergi kedua orang tua, ayah dan ibu. Jika kedua orang tua enggan bersinergi, maka sang anak akan menjadi generasi yang kurang berhasil. Tapi jika ada sinergi yang kuat antara ayah dan ibu, maka anak akan menjadi generasi yang berguna bagi bangsa dan negara. “Itu contoh sederhana. Apalagi untuk urusan mencegah dan menangani bencana kebakaran hutan dan lahan,” tegas Yudha.
Pesan penting kedua, dia menyebut jangan NATO alias no action talk only. “Maksudnya, jangan banyak bicara, tapi tidak ada action di lapangan,” seru Yudha di hadapan puluhan peserta rakor bertema Penguatan Satuan Tugas (Satgas) Pengendali Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Kaltim itu.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim, Kresnayana mengungkapkan, melihat kondisi cuaca selama Juni hingga Agustus yang cenderung terjadi hujan dan belum ada tanda terjadinya cuaca panas ekstrem khas kemarau, maka dia memprediksi kemungkinan terjadinya pergeseran waktu kemarau tersebut terjadi pada bulan yang akan datang. “Kalau istilahnya BMKG, saat ini kemarau basah. Panas, tapi masih ada hujannya. Meski demikian, kami dari BPBD tetap terus mengingatkan tentang ancaman Karhutla ini,” terang Kresnayana.
Apalagi beberapa provinsi termasuk Kaltim pernah mengalami pengalaman buruk dengan terjadinya Karhutla secara luas pada 2015 lalu dan menjadi bencana nasional. Saat ini jelas Kresnayana, BPBD memiliki 2 regu dengan total 20 personal yang siap dikerahkan ke lapangan jika terjadi Karhutla.
Bahkan, para petugas dari BPBD ini jelasnya sudah berpengalaman dan beberapa kali terlibat dalam upaya penanganan pemadaman api saat terjadi Karhutla. Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, beberapada daerah diantaranya seperti Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), Paser dan Berau merupakan daerah yang rentan terjadi Karhutla.
“Penyebab utama Karhutla ini umumnya akibat human error, misalnya dari kegiatan membuka ladang dengan cara membakar lahan untuk berkebun. Tapi beberapa waktu belakangan ini, Karhutla juga diakibatkan oleh faktor alam,” tambahnya. (adv)
Penulis: Maruly Zainuddin
Editor: Aspian Nur