Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim, Kresnayana mengungkapkan, melihat kondisi cuaca selama Juni hingga Agustus yang cenderung terjadi hujan dan belum ada tanda terjadinya cuaca panas ekstrem khas kemarau, maka dia memprediksi kemungkinan terjadinya pergeseran waktu kemarau tersebut terjadi pada bulan yang akan datang. “Kalau istilahnya BMKG, saat ini kemarau basah. Panas, tapi masih ada hujannya. Meski demikian, kami dari BPBD tetap terus mengingatkan tentang ancaman Karhutla ini. Jangan sampai lengah, antisipasi harus terus dilakukan,” kata Kresnayana.
Apalagi beberapa provinsi termasuk Kaltim pernah mengalami pengalaman buruk dengan terjadinya Karhutla secara luas pada 2015 lalu dan menjadi bencana nasional. Akibat kejadian Karhutla pada saat itu, bahkan menimbulkan kabut asap pekat dan membahayakan kesehatan warga dan tak sedikit yang mengalami gangguan inpeksi saluran pernapasan atas. “Kami (BPBD Provinsi) ini sifatnya membackup saja jika sewaktu-waktu terjadi ancaman Karhutla, karena tupoksi utama penanganan Karhutla ini ada di kabupaten/kota,” ujarnya.
BPBD juga sudah memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap untuk membantu melakukan pemadaman api jika sewaktu-waktu terjadi Karhutla, termasuk dukungan personel petugas yang sudah dilatih khusus untuk melakukan pemadaman api.
BPBD memiliki 2 regu dengan total 20 personal yang siap dikerahkan ke lapangan jika terjadi Karhutla. Bahkan, para petugas dari BPBD ini jelasnya sudah berpengalaman dan beberapa kali terlibat dalam upaya penanganan pemadaman api saat terjadi Karhutla.
Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, beberapa daerah diantaranya seperti Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), Paser dan Berau merupakan daerah yang rentan terjadi Karhutla. Bahkan, titik hotspot di daerah tersebut pun diperkirakan masih cukup banyak, meski tak semua hotspot berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
“Penyebab utama Karhutla ini umumnya akibat human error, misalnya dari kegiatan membuka ladang dengan cara membakar lahan untuk berkebun. Tapi beberapa waktu belakangan ini, Karhutla juga diakibatkan oleh faktor alam,” tambahnya. (adv)
Penulis: Maruly Zainuddin
Editor: Aspian Nur