Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menyampaikan bahwa kondisi geografis Bontang yang kompleks membuat daerah ini memiliki spektrum ancaman yang luas.
Ia menjelaskan bahwa Bontang terdiri dari kawasan pesisir, permukiman padat, hingga area industri, yang semuanya memiliki potensi bencana berbeda. Mulai dari banjir rob, angin kencang, kebakaran lahan, hingga risiko kegempaan yang mengacu pada kondisi nasional.
“Kombinasi faktor tersebut membuat kewaspadaan tidak bisa ditunda,” ujarnya, Minggu (23/11/2025)
Menurutnya, masuknya Indonesia pada fase peralihan musim turut memperbesar risiko. Frekuensi hujan yang meningkat, pasang air laut yang tidak stabil, serta potensi cuaca ekstrem menjadi tantangan tambahan bagi kota dengan topografi campuran seperti Bontang.
Kata dia, kesiapsiagaan pemerintah dan seluruh unsur terkait kini menjadi keharusan. Ia mengingatkan bahwa mitigasi dan respons cepat harus disiapkan lebih awal untuk meminimalkan dampak apabila bencana terjadi.
Pemerintah juga mengajak seluruh pemangku kepentingan. Termasuk unsur TNI-Polri, OPD teknis, hingga masyarakat untuk meningkatkan koordinasi, memantau kondisi lingkungan, dan segera melaporkan potensi bahaya. “Hal ini terbilang krusial agar upaya penanganan dapat berjalan efektif,” sebutnya.
Lebih jauh, ia menegaskan, menghadapi ancaman bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi memerlukan kewaspadaan kolektif.
Dengan kesiapan bersama, Bontang diharapkan mampu memperkecil risiko dan memperkuat ketahanan wilayah dalam menghadapi situasi cuaca dan lingkungan yang kian tidak menentu. (Adv)
Editor: Erwin