Anak-anak menjadi pihak paling dirugikan dalam sebuah kasus perceraian. Mereka belum mengerti mengenai apa yang sedang terjadi dan bagaimana harus menyikapinya. Kehilangan rasa sayang dari ayah atau ibu juga harus mereka tanggung.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menyoroti serius dampak perceraian terhadap anak-anak tersebut, baik dari sisi psikologis maupun perkembangan sosial. Pada akhirnya mereka akan mengalami father loss ataupun mother loss.
“Kehilangan figur salah satu orang tua dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan emosi anak. Beberapa kasus bahkan menunjukkan anak mengalami trauma mendalam hingga berpotensi membuat mereka menarik diri, agresif, atau mengalami gangguan identitas,” ujarnya. Selasa (18/11/2025).
Dia menjelaskan, konflik orang tua yang dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi pemicu munculnya perilaku menyimpang pada anak, termasuk risiko menjadi korban kekerasan atau terpapar lingkungan negatif.
“Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dari keluarganya. Contohnya, bagi yang tumbuh tanpa pendampingan emosional dari ibunya, berpotensi mengalami kecenderungan perilaku ekstrem sebagai bentuk pelarian atau protes,” katanya.
Maka dari itu, dirinya mendorong ASN dan masyarakat Bontang untuk memahami betapa pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga demi masa depan anak-anak. Ia menegaskan, perceraian seharusnya menjadi pilihan terakhir setelah segala upaya mediasi dilakukan oleh keluarga maupun pemerintah.
Ia juga meminta OPD untuk berperan aktif membantu pegawai yang mengalami keretakan rumah tangga agar tidak berdampak pada tumbuh kembang anak. Dengan deteksi dini dan konseling intensif, anak bisa terlindungi dari pengalaman traumatis yang berpotensi memengaruhi seluruh fase hidupnya.
“Membangun Kota Bontang ini tidak bisa hanya fokus pada pembangunan fisik semata, tetapi kualitas generasi muda juga sangat ditentukan oleh keharmonisan keluarga di rumah,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin