Keamanan bukan hanya tanggung jawab Polri, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dan tenaga pengamanan di lingkungan kerja, perumahan, hingga fasilitas publik. “Satpam adalah mereka yang berada paling dekat dengan potensi kerawanan. Karena itu, kemampuan dan kepekaan mereka menjadi faktor penting dalam pencegahan dini,” katanya.
Ia menambahkan, kehadiran Satpam yang profesional merupakan bagian dari ekosistem keamanan kota yang adaptif terhadap dinamika sosial. Selain Polri, masih ada elemen pendukung lain seperti FKDM yang juga berperan aktif dalam deteksi dini terhadap potensi gangguan ketertiban.
“Perlu ada komunikasi dan koordinasi yang solid antara seluruh komponen keamanan. Karena keamanan bukan sekadar reaktif, tapi juga harus preventif dan kolaboratif,” tegasnya.
Pelatihan yang diikuti 62 peserta ini menjadi ajang penting dalam memperkuat peran Satpam di lapangan. Melalui pembekalan teori dan praktik, peserta diharapkan memahami aspek teknis, etika, dan kedisiplinan dalam menjalankan tugas.
Ia juga menekankan bahwa penguatan kapasitas Satpam merupakan bagian dari visi Kota Bontang 2025–2029 untuk membangun transformasi sosial menuju SDM berdaya saing. “Satpam yang berintegritas dan disiplin adalah cerminan kualitas SDM yang kita harapkan hadir di Bontang,” tuturnya.
Ia berharap, pelatihan ini dapat menjadi wadah pembentukan karakter bagi tenaga pengamanan agar siap bersinergi dengan stakeholder terkait. “Kota yang aman dan tertib akan tumbuh menjadi kota yang sejahtera dan berkelanjutan,” pungkasnya. (adv)