"Jika jumlah kematian hanya satu jenazahtidak masalah tapi beberapa waktu lalu jumlah kematian cukup tinggi sehingga menunggu cukup lama dan antre. Kasihan petugas pemakaman sangat kelelahan. Pernah sehari ada yang meninggal 7 orang, belum lagi dari rumah sakit lainnya," ungkap Toetoek.
Lamanya proses pemakaman inipun membuat pihak rumah sakit kena imbasnya, karena keluarga pasien justru mengeluh kepada mereka.
"Banyak keluarga pasien yang komplain terkait pemakaman pasien Covid-19 justru ke RSUD Taman Husada padahal itu bukan ranah kami," ujarnya.
Komplain keluarga pasien yang meninggal terutama meminta dimakamkan di tempat pemakaman umum. "Itu kan tidak bisa, karena sudah disiapkan tempat pemakaman untuk jenazah pasien Covid di Bontang Lestari," jelas Toetoek.
Selain protes soal lokasi pemakaman, Toetoek juga menjelaskan jika proses pemakaman itu ranahnya Dinas Perkim.
"SDM penggali kubur terbatas saran saya dengan semakin banyaknya pasien neninggal Covid, sudah seharusnya Dinas Perkim memikirkan cara-cara penggalian kubur dengan memakai eksavator, selain memudahkan juga untuk mengurangi waktu dan kelelahan petugas penggali kubur," papar Toetoek.
Akibat kelelahan dan hanya menggunakan cara manual pernah jenazah meninggal jam 8 malam dan baru dimakamkan pagi harinya. Karena itu Toetoek meminta kerjasama yang baik antara RSUD Taman Husada, Dinas Kesehatan dan Dinas Perkim, dalam penyelenggaraan jenazah dan pemakamannya.
"Ini juga akan meminimalisir komplain keluarga pasien, karena mereka banyak yang tidak tahu jika masalah pemakaman komplainnya selalu ke RSUD. Padahal kami hanya sampai pemulasaran jenazah Covid, pemetian dan jenazah siap diantar ke peristirahatan terakhir. Hanya sampai disitu dan kami sudah lepas," tegas Toetoek.
Intinya, terkait pemakaman Toetoek menjelaskan, ranahnya adalah di Dinas Perkim. (kk04/adv/diskominfo)
Editor: Aspian Nur