Orang dengan obesitas pertanda memiliki lemak yang berlebih. "Jika lemak menumpuk di hati, otomatis fungsi hati akan terganggu, padahal fungsi hati untuk detoksifikasi (pembersihan racun)," kata Wijayanto.
Obesitas sama seperti bom waktu, yang efeknya bisa timbul di kemudian hari. "Silent killer, pembunuh secara perlahan," tegasnya.
Ada beberapa indikator seseorang masuk ke dalam golongan obesitas, satu yang dicontohkan yakni dengan melihat lingkar perut. Kalau standar wanita Asia adalah memiliki lingkar perut kurang dari 80 sentimeter dan laki-laki kurang dari 90 sentimeter. "Jadi untuk yang melebihi bisa dikatakan obesitas," papar Wijayanto.
Dokter Spesialis Gizi itu mengatakan jika solusi untuk obesitas adalah dengan melakukan diet didampingi ahlinya karena pasien diet harus benar-benar mengerti diet yang sesuai kebutuhan dan tidak mengganggu fungsi kesehatan lainnya. "Pasien obesitas harus mengerti kebutuhan kalori, jenis makanan yang dimakan," sebutnya.
Keberhasilan diet dari hasil uji laboratorium seperti melihat kadar kolesterol, kadar asam urat, kadar gula dan yang lainnya dan satu pasiennya sudah berhasil menjalani diet selama 6 bulan. "Trigliserida awalnya 1.201 menjadi 157, asam urat awal 8,1 jadi 5.3,". ungkap Wijayanto.
Turunnya berat badan di kala diet merupakan bonus, sedang yang terpenting adalah kadar lemak dalam tubuh menurun. Masyarakat yang ingin diet bisa melakukan terapi gizi dengan mendatangi Poli Gizi di RSUD Taman Husada secara langsung. Sayangnya terapi ini masih belum di-cover BPJS Kesehatan. "Kalau pasien BPJS harus melalui poli lain, misal lewat Poli Bedah, Jantung atau Penyakit Dalam baru di rujuk ke Poli Gizi," tutup Wijayanto. (ADV/KK05/DISKOMINFO)
Editor: Aspian Nur