“Kami sudah lebih dari ketentuan itu, karena sudah 80 persen. sisanya menunggu anggaran. Jika sudah ada anggaran dan tidak terkendala pandemi, maka sisanya yang belum mengantongi akan segera pelatihan sertifikasi ICU, lagipula RSUD Taman Husada komitmen 100 persen perawat ICU/PICU harus mengantongi sertifikasi semua,” ujar Komsiati, dibenarkan Kepala Instalasi Intensif Ruang ICU/PICU dr Arditya SpAn.
Untuk jumlah tenaga yang ada di Ruang ICU sendiri, selain 28 perawat, yang system kerjanya 3 shift, dimana satu shift terdiri 5 atau 6 perawat, juga ada dokter anastesi dua orang yakni dr Adtya dan dr Helda.
“Dokter anastesi stanby 24 jam, termasuk dokter umum juga ada. jadi walaupun diluar tugas, misalkan sudah berada di rumah tiba-tiba ada pasien emergency maka dokter anastesi harus segera ke ruang ICU, dan diwajibkan handphone harus stanby 24 jam tidak boleh dalam kondisi mati,” jelasnya.
Selama ini dari jumlah tenaga medis dengan pasien, dijelaskan Arditya maupun Komsiati, masih dalam batas wajar. “Kalau dilihat jumlah pasien dan alat termasuk perawat masih cukup. 1 perawat bisa 1 sampai 2 tempat tidur atau tergantung kondisi pasien,” paparnya.
Soal kesulitan penyakit hampir semua penyakit semua pernah mereka rawat. “Bervariasi sih tingkat kesulitannya dan hampir semua pernah rawat, sementara yang tidak bisa adalah pasien bedah syaraf, karena RSUD Tidak memiliki dokter bedah syaraf,” kata Arditya.
Untuk sementara jika ada pasien bedah syaraf, maka tindakan yang dilakukan mereka adalah menstabilkan pasien terlebih dahulu, kemudian setelah stabil, baru dilakukan upaya rujuk ke RSUD AW Syahranie di Samarinda untuk penanganan lebih lanjut.
“Karena disini belum ada bedah syaraf, dulu ada ya di rawat di sini. Tapi sekarang tidak, mau tidak mau ya di rujuk ke Samarinda,” tutup Arditya. (KK04/adv/diskominfo)
Editor: Aspian Nur