“Ada 293 perawat dan bidan di rumah sakit ini dan seluruhnya sudah bersertifikasi BTCLS (Basic Trauma Cardiac Life Support).
Itu merupakan syarat utama menjadi perawat dan bidan,” kata Sri Hartatriwati, didampingi Palupi Setio Hapsari S.Kep.Mes, kepada korankaltim.com, Rabu (21/4/2021) kemarin di ruang kerjanya lantai.2 RSUD Taman Husada Bontang.
Sertifikasi BTCLS merupakan syarat dasar menjadi seorang perawat/bidan untuk ruangan. “Di sini semua sudah memiliki, dan tiap tahun kami lakukan up grade sertifikasi, karena berbeda ruangan dan pelayanan berbeda pula sertifikasi lanjutannya termasuk sertifikasi khusus, dan biasanya tiap tahun selalu up grade,” ujarnya.
BTCLS memiliki masa kadaluarsanya, yaitu per tiga tahun harus up grade. Ada juga sertifikasi khusus untuk perawat dan bidan yang berada di IGD yakni ATCS. “Itu adalah sertifikasi tambahan, dan wajib untuk perawat di IGD,” jelasnya.
Bukan hanya IGD, setiap ruangan pelayanan seperti PICU, ICU, hemodialisa, dan lainnya, semua ada sertifikasi khusus sendiri-sendiri, dna pelatihannya cukup lama yakni 3 bulan, dengan biaya satu orang biasanya Rp30 juta.
“Kalau semua diikuti, biaya sertifikasi bisa-bisa mencapai Rp1 miliar lebih tiap tahunnya untuk up grade. Hanya saja RSUD Bontang adalah BLUD, yang semua anggaran dikelola sendiri, sehingga anggaran terbatas dan untuk sertifikasi hanya dianggarkan Rp300 juta per tahunnya
Untuk mensiasati agar seluruh perawat dan bidan memiliki sertifikasi lanjutan dan tambahan, maka digilir satu persatu. “Kami setahun dengan anggaran Rp300 juta, jadi nggak bisa serta merta semua ikut sertifikasi ini sertifikasi itu, jadi dipilah-pilah mana yang lebih utama dan diperlukan segera. Dan pengiriman perawat pun hanya bisa mengirim 5 sampai 10 perawat untuk belajar dan upd grade serifikasi selama 3 bulan kalau diluar pulau Kalimantan,” jelasnya.
Selama pandemic Covid-19 ini, RSUD Bontang tidak mengirim untuk peningkatan SDM, selain itu juga karena anggarannya juga tidak ada.
Ditambahkan Palupi, di tahun 2020, pelatihan yang sudah terlaksana adalah BTCLS di Samarinda, dengan penyelenggara HIPGABI, dan RSUD Bontang mengirim 30 perawat.
Kedua adalah pelatihan resusitasi neonates, ada mengirim 2 orang dan works shop atau seminar 4 orang.
Sri menambahkan, jumlah 293 perawat dan bidan saat ini terbilang cukup. Di mana sebelumnya mereka hanya 243 saja, karena setahun lalu Covid menyerang dan banyak tenakes yang terkena sementara pasien Covid di Bontang melonjak, maka RSUD membuka lowongan perawat.
“Saat ini jumlah 293 sangat cukup untuk seluruh pelayanan di RSUD. Apalagi saat ini, Covid melandai, sehingga perawat-perawat kita masukkan ke ruang perawatan, karena di perawatan kurang,” jelasnya.
Untuk kebutuhan perawat di setiap ruangan dan kondisi pasien, dijelaskan Sri dan Palupi, dilihat status pasiennya.
“Jika pasien yang berada di ICU biasanya 1 perawat 1 pasien, namun jika kondiisnya intensif care maka bisa 1 pasien 2 perawat. Sedangkan jenis pasien lainnya adalah total care, parsial care dan self care. Untuk total care, biasanya 2 pasien 1 perawat, sementara self care bisa 5 pasien 2 perawat. Intinya tergantung kondisi,” tutup Palupi.(KK04/ADV/KOMINFO
Editor: Aspian Nur