
( Hari Kartini, Karyawan dan Manajemen RSUD Taman Husada Kenakan Kebaya)
Pasien pun mendapati pemandangan yang berbeda dari hari-hari biasanya. Di lantai bawah, khususnya bagian pendaftaran dan kasier, seluruh pegawainya tampak cantik dan anggun mengenakan kebaya tradisional dan modern. Pun sama para manajemen mulai dari tingkat direktur hingga di bawahnya juga terlihat cantik dengan kain kebaya yang mereka kenakan.
Menurut Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Taman Husada Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati, yang saat ditemui korankaltim.com terlihat lebih anggun dan luwes mengenakan kebaya modern berwarna biru tua, sebelum pandemic pihak RSUD selalu rutin merayakan Hari Kartini.
“Kami biasanya di Hari Kartini selalu gelar upacara, juga ada lomba Ratu Luwes dalam berkebaya. Tapi sekarang kondisi pandemi membuat semua kegiatan tidak diperkenankan karena harus sesuai prokes,” ujar Toetoek, kepada korankaltim.com siang tadi.
Menurutnya, esensi utama dalam perayaan Hari Kartini adalah mensyukuri dan mengenang. ”Juga rasa terima kasih kita emansipasi wanita, sehingga kita para wanita diperbolehkan bekerja. Disejajarkan dengan kaum pria,” kata dokter gigi ini.
Namun saat ini ketika pandemic covid, mereka tahu ada aturan yang harus ditaati, yakni sosial distancing dan harus mematuhi protocol kesehatan.
“Kalau kami gelar lomba jelas tidak mungkin. Jadi dari instruksi Plh Dirut RSUD Bahauddin, khusus manajemen dan karyawan RSUD pada hari Rabu, diwajibkan mengenakan kebaya khusus para wanitanya, sementara untuk laki-laki dikhususkan mengenakan batik,” jelasnya.
Menurutnya, gema semangat Kartini harus tetap ada. “Esensi tetap sama tidak mengurangi hanya tata cara memperingatinya saja yang berbeda,” kata wanita yang sudah 12 tahun mengabdi di RSUD Bontang ini.
Khusus di bagian perawatan diperbolehkan tidak mengenakan kebaya karena tugas mereka harus melayani pasien dan agar tidak menghambat pekerjaannya juga.
“Semula pakai kebaya, kalau bagian perawatan diizinkan tidak pakai karena emergency. Tapi selain itu mulai dari lobi penerimaan pasien, pendaftaran hingga manajemen diperkenankan batik dan kebaya,” katanya.
Hari Kartini, bagi Toetoek, apalagi di era pandemi, sebagai wanita memiliki peran ganda. Mengapa? Sebagai wanita harus bisa membagi waktu, apalagi yang bekerja, selain membagi waktu di pekerjaan juga harus membagi waktu tenaga juga pikiran di rumah, apalagi yang sudah berkeluarga. Karena harus menjadi guru bagi anak-anaknya karena kondisi belajar online.
“Kami ini ibarat Kartini Kesehatan disamping menghandle pasien, di masa pandemic juga harus bisa handle keluarga bagaimana tetap survive dan bisa menfasilitasi belajar Daring. Kartini harus lebih power apalagi Kartini di masa Pandemi,” tutup Toetoek. ( KK04/ADV/KOMINFO )
Editor: Aspian Nur