Antibodi kuantitatif Sars Cov-2 telah ada sejak Bulan Maret lalu. Ia juga menjelaskan kegunaan alat ini, diantaranya adalah digunakan untuk melihat apakah seseorang pernah ada riwayat terpapar Virus Covid-19. “Karena yang pernah terpapar pasti terbentuk antibody, meskipun kadarnya berbeda-beda,” jelasnya beberapa waktu yang lalu.
Fungsi lainnya yaitu untuk memeriksa respon tubuh setelah divaksin, disebutnya jika tes ini mampu menilai seberapa baik respon imunitas tubuh yang terbentuk sebagai reaksi perlawanan terhadap Virus Covid-19.
Adapun fungsi yang terakhir adalah untuk screening para pendonor. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang cocok untuk mendonorkan darahnya ke pasien yang terjangkit Covid-19. “Darah dalam hal ini antibody orang yang sembuh dari Covid-19 diberikan ke orang yang sakit Covid-19.
Mengingat virus ini terkadang menjangkiti orang yang tidak menunjukkan gejala sama sekali, maka bagi masyarakat yang memiliki rasa penasaran pernah terpapar Covid-19 atau tidak, bisa mencoba tes ini. “Untuk mengetahui apakah kita sudah terpapar, itu bisa dari antibodi kuantitatif,” ujar Eva.
Jika rapid, antigen, PCR maupun TCM hanya menghasilkan hasil positif dan negative atau reaktif dan non reaktif untuk antibodi kuantitatif Sars Cov-2 mampu menghasilkan kesimpulan dalam bentuk angka. “Jika angka antibodinya diatas 0,8 itu menunjukkan bahwa di dalam tubuhnya telah terbentuk sistem pertahanan yang diharapkan dapat melindungi dari Covid-19" jelas Eva (KK05/ADV/KOMINFO)
Editor: Aspian Nur